Abon Ayam Farda, Hanya Olah Daging Bagian Dada

Tidak mudah untuk membuat abon ayam yang enak dan layak jual. Heni Apriati dan Joko Puryato harus melakukan ujicoba selama enam bulan lamanya hingga akhirnya mendapatkan resep dan cara memasak yang benar. Kini pasangan suami istri ini sudah bisa memasarkan produk abon ayam mereka sendiri.

“Pernah ikut pelatihan, hasil produknya mimpes (tidak mengembang, red). Jadi kami coba-coba sendiri nyari cara yang benar,” terang Heni.

Dulu Heni dan suaminya hanya menjadi reseller produk abon ayam milik orang lain. Namun usaha tersebut sempat tersendat karena pemilik usaha berhenti berproduksi. Padahal pendapatan dari berjualan abon cukup untuk menambah pendapatan harian mereka. Makanya keduanya kemudian mencoba produksi sendiri.

“Sudah dua tahun ini produksi abon ayam berjalan,” tambah perempuan 43 tahun ini.

Proses percobaan membuat abon di awal usaha tidak selalu mulus. Kadang berhasil, kadang tidak. Heni akhirnya mendapatkan hasil yang konsisten setelah menjalani proses trial and error selama setengah tahun lamanya. “Kalau rasa sudah pas dan enak. Tapi untuk teksturnya yang kadang bagus kadang tidak,” jelasnya.

Teknik menggoreng yang benar menjadi andalan Joko Puryato dalam membuat abon ayam yang layak jual.

Heni pun berbagi tips untuk bisa mendapatkan tekstur abon yang “ngapuk” atau mengembang seperti kapas. Menurutnya, kuncinya ada di teknik penggorengan dan api yang digunakan harus pas besarnya. Jangan sampai kekecilan atau kebesaran karena bisa membuat tingkat kematangan abon tidak rata.

“Usahakan daging ayam yang digiling sudah tidak mengandung air,” tandas ibu dua anak ini.

Dalam membuat abon, Heni hanya menggunakan daging ayam bagian dada saja. Itupun ayamnya harus berdaging banyak agar kualitas abonnya bagus. Agar tidak rugi, dia berlangganan ayam potong khusus bagian dada saja. Setiap kulakan, Heni membeli 8 kg daging ayam segar di pedagang ayam potong asal Banyakan, Kabupaten Kediri.

“Dari 8 kg daging ayam, jadi abon sekitar 4 kg saja,” ujarnya.

Oleh Heni, abon tersebut dikemas dalam bungkus berbentuk standing pot dengan berat 100 gram. Harganya dipatok Rp 18 ribu untuk reseller dan Rp 20 ribu untuk konsumen. Heni menitipkan produknya ke toko-toko di Malang dan didrop setiap tiga minggu sekali. Beberapa disimpan sebagai stok untuk para konsumen yang beli online atau datang langsung ke rumahnya.

“Alhamdulillah produk selalu habis saat kami drop barang baru. Produk bisa tahan sampai enam bulanan,” ungkapnya.

Heni Apriati menunjukkan produk abon ayam Farda buatannya.

Selain di Malang, Heni juga memiliki beberapa reseller di Kota Kediri dan sekitarnya. Memang tidak semua toko mau dititipi produk abon ayam merek Farda ini. Bagi Joko, hal tersebut wajar terjadi dan dia tidak ambil pusing. Jika toko keberatan, dia tinggal bergeser ke toko lainnya yang mau menerima produknya.

“Kami cari toko-toko yang dekat dengan keramaian, misalkan dekat pondokan. Jadi peluang terjualnya besar,” pungkas Joko.

Lokasi : Jalan Balowerti, No. 8B, Kota Kediri, belakang SDN 1 Balowerti

WhatsApp : 0881 3323 946

Give a Comment