Adia Indonesia, Tas Tenun Ikat Kediri Desain Modern dan Segar

Berawal dari membuat aksesoris, Lis Susanti (35 tahun) kini menjadi produsen tas etnik di Kota Kediri. Perjalanannya inspiratif. Mulai dari yang tak bisa menjahit, belajar menjahit, hingga kini sudah bisa membuka lapangan kerja untuk 13 orang.

Santi awalnya bekerja di sebuah perusahaan komunikasi. Ia hobi membuat perhiasan. Pekerjaan yang dilakukan dengan senang hati, maka hasilnya optimal. Demikian dengan Santi. Karya perhiasannya disukai pelanggannya dengan desain-desain yang unik dan fresh.

Melihat apa yang dikerjakan menjanjikan, akhirnya ia keluar dari perusahaan dan fokus dengan usahanya. Santi pun menambah karyawan untuk membantu.

koleksi Adia Indonesia Foto: Mall UMKM/Adhi Kusumo

“Pada saat ada fashion show Dhoho Fashion Street, aksesoris kami ikut tampil menyertai tampilnya baju-baju dari para desainer nasional,” kata Santi. Event yang digelar rutin tiap tahun itu memberi ajang promosi yang bisa mengenalkan karya Santi ke khalayak yang lebih luas.

Kini, media sosial menjadi wahana promosi yang menjangkau jauh lebih luas lagi. Media sosial mempermudah UMKM untuk mempromosikan karyanya. Santi pun tak berhenti di perhiasan, ia pun mencoba membuat tas dari bahan tenun ikat kediri.

“Saya melihat, tenun ikat kediri bagus-bagus. Hanya varian produknya belum banyak selain baju,” kata Santi. Maka ia mulai dengan membuat tas. Tahun 2017 memulai dengan tenun ikat kediri.

Ternyata, mencari penjahit untuk membuat tas tidak mudah. Maka ia pun belajar menjahit sendiri. Padahal Santi sama sekali tidak bisa menjahit.

Hingga kini membuka pekerjaan bagi 13 orang, bidang tas dan aksesoris. Foto: MallUMKM?Adhi Kusumo

“Saya belajar menjahit dari teman di Sidoarjo, dari sana saya belajar membuat tas,” kata Santi.

Perjalanan berlanjut. Selain membuat tas berbahan tenun, ia juga memadukan dengan kulit sintetis. Desain-desain yang segar dan etnik. Pesanan pun lumayan, dari mulai perseorangan hingga perusahaan. Ketika mendapatkan pesanan massal, maka Santi pun membangun jaringan. Ia tak mengerjakan sendiri, bermitra dengan para penjahit.

“Tapi saya juga ada staf tetap, ada 10 orang yang kerja dengan saya,” tambahnya. Tak jarang, Santi juga mengajari dari awal hingga para staf itu mahir. Beberapa yang bekerja pada Santi ada yang masih mahasiswa untuk mendapatkan uang tambahan.

Santi dengan merek tas Adia Indonesia, rutin mengeluarkan koleksi dan katalog. Pesanan bisa sampai 5.000 pieces untuk satu model. Hal itu menjadikan ia bertahan, tidak menghentikan karyawan meskipun era pandemi.

“Alhamdulillah, selalu ada pesanan. Saya terus inovasi dengan desain dan bahan untuk dipadukan dengan tenun,” tambah Santi. Produknya pun bervariasi, mulai dari tas tangan (hand bag), dompet, clutch, dan lain-lain. Varian harga dari Rp180.000,- hingga Rp 300.000,-

Adia Indonesia
IG adia.bag
Pekunden, Kec. Pesantren, Kota Kediri

Give a Comment