Adri Purnomo, Sulap Handuk Jadi Pot Bunga

Rumah Adri Purnomo yang berada di Kelurahan Mojoroto, gang 10 cukup asri. Ada banyak tanaman hias di halaman rumahnya. Ada yang menarik di sana. Pot-potnya berbentuk unik dan berwarna-warni. Jika dicermati, ternyata pot-pot bunga tersebut terbuat dari barang-barang bekas.

Ada pot dari bekas galon air, ada yang digantung dan terbuat dari sabut kelapa, ada yang berasal dari botol bekas air mineral dan dipasang menempel di dinding samping rumah. Semuanya dihias dan diwarnai sehingga tampilannya menjadi artistik dan menambah keindahan taman.

Dan yang paling unik adalah pot dari handuk. Orang tidak akan sadar jika pot yang digunakan Adri berasal dari bahan baku kain handuk. Pasalnya tampilannya sangat berbeda. Bentuknya cekung dengan dinding-dinding pot yang berdiri kokoh. Teksturnya tidak lagi beludru, warnanya pun menjadi abu-abu.

“Ini kain handuk saya campur adonan semen murni jadi bisa berdiri,” terang Adri.

Sebenarnya pot dari kain handuk ini ide dari salah satu rekan Adri yang juga seorang pegawai Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan Pemkot Kediri. Adri pun tertarik untuk merealisasikannya. Ternyata berhasil dan hasilnya pun cukup kuat untuk menampung tanah berikut tanaman hias di atasnya. “Satu sak semen biasanya untuk dua pot ukuran besar,” tambahnya.

Pria 50 tahun ini juga sempat bereksperimen yakni menggunakan kain sprei yang tebal. Namun ternyata percobaannya tersebut gagal. Padahal dia sudah terlanjur menggunakan sprei yang baru beli. “Ya tidak ada salahnya coba-coba walaupun harus korban sprei baru,” ujarnya sambil tertawa.

Produk pot kain handuk inipun mulai dikenal masyarakat luas. Karena bentuknya unik seperti kelopak bunga raksasa, banyak orang yang memesannya. Adri pun menerima berbagai varian bentuk dan ukuran pot meski bahannya sama dari handuk. Untuk ukuran paling kecil dijual Rp 25 ribu. Biasanya pot mini ini untuk tanaman anggrek dan posisinya digantung.

Sedangkan untuk ukuran sedang dijual Rp 40 ribu. Dan yang paling besar dibanderol harga Rp 150 ribu. Karena susah mendapatkan handuk ukuran jumbo, Adri mengganti bahannya menjadi kain goni. Hasilnya pun sama bagusnya. “Selain handuk besar susah carinya, harganya pastinya lebih mahal daripada karung goni,” ujar bapak dua anak ini.

Memang produk kerajinan seperti pot bunga tidak selalu ramai pesanan. Apalagi ketika pandemi. Adri pun menyiasatinya dengan membuat ember cuci tangan. Ada dua jenis ember yang dijual yakni yang dihiasi tulisan-tulisan maupun gambar pemandangan. Ternyata produk tersebut laris manis di pasaran.

“Dulu awal pandemi, sebulan bisa menjual sampai 300 unit ember cuci tangan,” tandasnya.

Tanpa bosan Adri pun terus berinovasi. Kali ini dia membuat tempat sampah dari ban dengan hiasan unik di bagian luarnya. Kemampuannya di bidang seni kaligrafi, membuat tangan pria ini cekatan saat menggerakkan kuas-kuasnya di atas karet ban. “Yang sekarang ini saya kerjakan pesanan tempat sampah dengan gambar motif tenun,” bebernya.

Adri Purnomo juga menggambar motif pada tempat sampah karet sesuai pesanan

Adri tidak terpaku pada satu jenis produk saja. Ada banyak barang kerajinan yang bisa dikerjakannya. Mulai dari pot, tempat sampah, rak bunga, hingga kotak hantaran dari kayu. Untuk produk di luar pesanan, Adri memanfaatkan barang-barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan. Sedangkan untuk produk pesanan, mulai bahan hingga jenis barangnya bisa disesuaikan dengan keinginan konsumen.

“Saat ini saya dengan istri aktif mengerjakan pesanan setiap hari. Kami belum ada pekerja karena semua masih bisa dikerjakan sendiri,” pungkasnya.

Lokasi : Kelurahan Mojoroto gang 10/3A, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri

WhatsApp : 0852 3098 4629

Give a Comment