Alfi Hasanatin, Konsisten Budidaya Jamur Meski Pernah Gagal Panen

Pernah gagal budidaya jamur tidak membuat Alfi Hasanatin patah semangat. Perempuan 31 tahun ini tetap lanjut melakukan pembesaran jamur tiram di rumahnya di Kelurahan Manisrenggo Kota Kediri. Kini usaha jamurnya merambah ke pengolahan pasca panen yakni produksi keripik jamur.

“Jadi petani jamur sudah dari tahun 2012. Kalau jamur crispy baru saya mulai 2017,” terang Alfi.

Alfi ingat saat merintis usaha jamur, dia membeli 500 baglog (media tanam jamur). Ternyata setelah ditunggu, lebih dari separuh baglog yang dibeli tidak tumbuh jamur. Penyebabnya dikarenakan kumbung atau ruang simpan baglog kurang tertutup. Makanya banyak hama dan penyakit yang datang sehingga benih yang sudah ada di dalam baglog tidak tumbuh.

“Dari 500 baglog, yang tumbuh hanya 200-an,” ujar ibu tiga anak ini.

Meski sempat rugi, Alfi terus mencoba budidaya jamur. Perempuan asli Manisrenggo ini tertarik jamur tiram karena masa panennya lebih cepat daripada tanaman lainnya. Untuk bisa menikmati jamur segar, Alfi cukup menunggu selama satu bulan setelah baglog datang dari penjual langganannya di Tulungagung.

“Kalau sekarang harga per baglog Rp 2500,” jelasnya.

Alfi menjual jamur-jamur segar tersebut ke pasar. Dulu dia menjualnya di Pasar Setonobetek. Namun kini beralih ke Pasar Kolak, Ngadiluwih karena lebih dekat rumah. Karena semakin banyak petani jamur, pedagang di pasar tidak bisa menerima jamur terlalu banyak. Makanya Alfi berinsiatif untuk mengolah sebagian jamurnya untuk dijadikan keripik jamur. “Kalau panen, separuh dijual segar, sisanya diolah jadi camilan,” tandasnya.

Ternyata produk olahannya tersebut cukup disukai. Dengan mantap Alfi menambah baglognya menjadi dua ribu buah. Seribu baglog di kumbung 1, dan seribu lainnya di kumbung 2. Sistem panennya bergantian. Jika kumbung 1 sudah habis masa panennya, baglog lama diganti baru. Selama menunggu jamur tumbuh, Alfi tetap bisa produksi dengan memanen jamur di kumbung 2.

“Jadi tidak pernah kosong stok. Selalu jualan segar dan rutin bikin jamur crispy,” ungkapnya.

Jamur Crispy Al Fatih, camilan gurih dan renyah.

Untuk mendapatkan resepnya, Alfi mencoba-coba sendiri dengan bantuan internet. Selain bahan-bahannya, dia juga mempelajari teknik-teknik mengolah jamur agar teksturnya garing dan renyah. Karena diolah dengan benar, keripik jamur merek Al Fatih ini tahan hingga enam bulan meski tanpa pengawet.

“Pastinya pernah gagal-gagal juga. Tapi sekarang sudah ahli dalam membuatnya,” ujarnya mantap.

Saat ini Alfi masih fokus memasarkan produknya di sekitaran Kediri. Sejauh ini sudah ada enam reseller yang bekerjasama dengannya. Dilihat dari respon pasar, banyak yang menyukai Jamur Crispy Al Fatih. Pasalnya Alfi dan suaminya rutin menaruh produk baru di toko setiap bulannya karena stok lama sudah habis terjual.

“Setiap bulan kita selalu cek. Kalau masih ada stok di toko, kita tarik dan ganti baru. Tapi seringnya produk habis, Alhamdulillah,” ujarnya bersyukur.

Alfi menjual jamur krispy dalam kemasan 100 gram dengan harga Rp 7.500 ke reseller. Konsumen juga bisa membeli kiloan dengan banderol harga Rp 70 ribu. “Produk pernah sampai Kalimantan. Tapi untuk saat ini masih fokus mencukupi permintaan lokal dulu,” pungkasnya.

Lokasi : Jalan Sersan Suharmaji No. 246, RT 05/RW 03, Kelurahan Manisrenggo

Instagram : alfiyehasanah

Facebook : Alfiye Hasanah

WhatsApp : 0857 9076 9007

Give a Comment