Antana Widhi Rela Habiskan Setengah Kuintal Kopi Selama Ujicoba

Ketatnya persaingan bisnis kopi tidak membuat Antana Widhi Prayitna gentar. Pria 43 tahun ini mantap memulai usaha kopi “Mbah Darjo”-nya setahun terakhir. Hasilnya, produk kopinya cukup digemari. Melihat respon pasar yang cukup positif, dia bahkan sudah berangan-angan untuk mendirikan pabrik kopi mini di samping rumahnya.

“Kadang-kadang topik ini jadi bahan “rasan-rasan” saya dengan pendamping UMKM yang membina saya,” terangnya saat ditemui di kediamannya di Perumahan Permata Hijau, Kelurahan Singonegaran, Kota Kediri.

Antana sebenarnya bukanlah penggemar kopi fanatik. Dia akhirnya kepincut bisnis kopi setelah dibujuk kolega yang ditemuinya di Bondowoso. Di sana dia diajari hal-hal dasar tentang kopi. Mulai dari mengenali biji kopi sejak di tingkat petani, cara memilih bean yang bagus, hingga cara pengolahannya.

“Saya belajar selama seminggu full di sana (Bondowoso, red),” tambahnya.

Pulang dari sana, Antana langsung membeli satu mesin roasting kopi. Dia pun kulakan kopi dari pasar-pasar terdekat untuk ujicoba. Hasilnya tidak langsung memuaskan. Bahkan demi mendapatkan hasil gorengan terbaik, Antana sampai menghabiskan setengah kuintal kopi selama masa percobaan. Dia memanfaatkan orang-orang sekitarnya untuk mencicipi hasil eksperimennya.

Antana Widhi, pemilik usaha kopi bubuk Mbah Darjo sedang menggiling biji kopi

“Teman saya yang di Bondowoso juga saya tanyai. Cuma merasakan hasilnya saja dia sudah bisa komentar nggorengnya kurang lama sedikit. Padahal dia nggak tahu saya nggorengnya gimana,” ujarnya.

Setelah dianggap enak oleh banyak orang, Antana mantap untuk memproduksi bubuk kopi. Jenis yang dipakainya yakni robusta. Pria kelahiran Surabaya ini sempat mencoba mengolah kopi arabica. Namun ternyata prosesnya lebih rumit dan tidak cocok dengan mesin roasting yang dimilikinya. Makanya dia akhirnya menyerah dan memilih fokus pada kopi robusta.

“Saya pernah mencoba mengolah arabica sampai habis 10 kg. Hasilnya tetap kurang memuaskan. Padahal harganya Rp 100 ribu per kg. Bisa dihitung itu saya sudah buang uang berapa,” curhatnya sambil tertawa.

Antana kulakan kopi robusta dari petani Wonosalam Jombang melalui pengepul di Desa Kandangan, Kabupaten Kediri. Setiap harinya, dia memproduksi 40 kg kopi bubuk sesuai kapasitas mesinnya. Di awal usaha, Antana menggiling kopinya ke Pasar Setonobetek. Namun kini dia sudah memiliki mesin giling sendiri.

“Sekali goreng biasanya butuh waktu 2 jam-an. Jadi level kopi saya lebih ke cokelat tua,” bebernya.

Antana menjual kopinya dalam berbagai ukuran kemasan. Untuk kopi dengan berat 250 gram dijual seharga Rp 15 ribu. Kopi ini menyasar para pemilik warung-warung kopi karena lebih ekonomis. Untuk kopi kualitas premium dengan berat 200 gram premium dibanderol Rp 18 ribu. Sedangkan untuk kopi lanang dijual Rp 30 ribu per kemasan ukuran 200 gram.

Kopi robusta kualitas premium Mbah Darjo yang dikemas secara eksklusif.

Untuk pemasarannya, Antana merekrut SPG yang datang seminggu sekali untuk ambil barang di tempatnya. Sasarannya sejauh ini masih di Kediri dan sekitarnya. Kadang dia sendiri yang berkeliling mengenalkan produknya. Semua menjadi incarannya baik warung kopi maupun toko-toko.

“Saya juga memanfaatkan grup-grup WA yang isinya para pelaku UMKM juga. Support mereka sangat baik, banyak yang dengan senang hati membantu berpromosi,” ujarnya bahagia.

WhatsApp : 0813 3524 4482

Give a Comment