Basuki Tailor, Pernah Dapat Pesanan Langsung Dari Walikota Abdullah Abu Bakar

Meski pindah ke dalam gang tidak membuat jasa jahit Basuki Tailor redup. Usaha yang kini dijalankan Siti Asiyah ini terus berjalan. Bahkan perempuan yang kini tinggal di gang V-A Jambe, Kelurahan Bandarlor ini pernah menjahit seragam Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar yang dipesan langsung oleh beliau.

“Sekitar tahun 2016 lalu. Saat itu usaha masih saya jalankan bersama suami,” terang Siti yang kini harus menjalankan usahanya seorang diri.

Sebenarnya kedatangan Mas Abu ke rumahnya saat itu untuk menemui anaknya yang kedua. Namun anaknya yang berstatus sebagai mahasiswa Universitas Airlangga masih berada di Surabaya. Siti yang sebelumnya tidak mendapat kabar apa-apa sempat kaget dan merasa khawatir.

“Saya kaget kok banyak satpol PP datang ke rumah, nyari anak saya. Ada apa?” ujarnya sambil mengingat-ingat momentum tidak terlupakan tersebut.

Ternyata kedatangan walikota tersebut untuk menyampaikan kabar bahwa putri keduanya mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Kota Kediri. Karena yang bersangkutan tidak ada, Mas Abu tetap datang dan berbincang dengan Siti Asiyah dan suaminya yakni Basuki. Walikota muda ini pun baru tahu keduanya bekerja sebagai penjahit. Dia pun tanpa ragu memesan untuk dibuatkan dua stel baju formal yakni kemeja putih, atasan batik, dan celana kain warna gelap.

“Saat itu yang mengukur dan menjahit baju walikota ya suami saya. Saya hanya membantu saja meskipun saya juga bisa menjahit,” ungkap perempuan asli Banjarmlati, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri tersebut.

Sepeninggal suaminya, Siti mengerjakan seluruh pesanan jahit sendirian. Sejauh ini perempuan 53 tahun ini bisa menyelesaikannya dengan baik dan tepat waktu. Hanya saja ketika ada acara peringatan mendiang suami, dia meminta waktu lebih banyak. “Rata-rata yang datang para pelanggan karena di sini lokasinya masuk gang jadi tidak semua orang tahu,” bebernya.

Sebagian besar orang yang sudah pernah pesan ke Basuki Tailor selalu melakukan pesananan berulang. Siti sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan mereka loyal terhadap jasa jahitnya. Menurutnya, biasanya yang membedakan hasil jahitan seseorang ada pada kerapihan jahitan dan potongan baju yang sesuai dengan bentuk tubuh.

“Mungkin karena hasil bajunya nyaman digunakan. Dan kalau jahit di sini, pemesan bisa minta perbaikan kalau ada hal-hal yang mau ditambahkan,” ujarnya.

Siti Asiyah dan mesin jahit kesayangannya.

Dulu Siti sering mendapat pesanan dari instansi Pemerintah Kota Kediri. Namun saat ini jarang lagi karena tidak ada kebijakan pesanan seragam pegawai serentak seperti sebelumnya. “Sekarang lebih ke pesanan perorangan saja,” tandasnya.

Selama pandemi corona, pesanan baju relatif sepi. Siti pun mencoba berganti membuat masker kain. Dalam sebulan terakhir, dia berhasil membuat seribu masker pesanan berbahan kain batik. Bahan bakunya dibeli secara online. Hasilnya pun dijual secara online. “Anak saya yang pesan kain percanya, saya yang buat maskernya. Hasilnya anak saya yang jual lagi lewat online,” katanya.

Jika mendapat pesanan kilat, Siti bisa menyelesaikan satu stel baju dalam sehari. Namun jika tidak, biasanya pesanan bisa diambil seminggu setelah pesan. Untuk masker, Siti bisa mengerjakan 15 masker dalam sehari. Harganya Rp 8 ribu per lembar.

Lokasi : Kelurahan Bandarlor gang V-A Jambe, RT 19/RW 03, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

WhatsApp : 0857 3514 0741 

Give a Comment