Batik “Putri Banjarsari” Terus Bersinar Meski Pandemi

Tren mode pasti berubah-ubah mengikuti perkembangan zaman. Namun perubahan yang dinamis ini tidak akan pernah mematikan bisnis batik. Hal ini dirasakan Ika Herlina, perajin batik asal Kelurahan Banjaran Kota Kediri. Sudah delapan tahun ibu dua anak ini menggeluti usaha batik dan hingga kini masih aktif produksi meski digempur pandemi.

Tidak bisa dipungkiri usaha Ika pun ikut terseok-seok selama wabah corona. Namun hal tersebut tidak serta merta mematikan ladang usahanya. Demi bertahan, perempuan 43 tahun ini menyiasatinya dengan menyulap kain batik  miliknya menjadi masker. Hasilnya cukup untuk bertahan hidup di masa “paceklik”.

“Sama seperti usaha milik orang-orang sekarang pastinya, sepi. Tapi Alhamdulillah masih ada permintaan masuk terutama di maskernya,” terang Ika saat ditemui di kediamannya yang juga menjadi tempat kerjanya.

Ika sebelumnya tidak mengenal batik sama sekali. Dia hanya aktif di Asosiasi Perajin Kota Kediri (Aspekori) karena saat itu dia cekatan membuat barang-barang kerajinan tangan seperti manik-manik, aksesoris, hingga barang-barang home decor. Hingga akhirnya Ika mengetahui teknik membatik ketika mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Dinas Sosial dan Ketenagakerjaan (Dinsosnaker) Kota Kediri di tahun 2012.

Sejak saat itu Ika pun menemukan hobi baru yakni membatik. Dia kemudian menggabungkan diri dalam perkumpulan ibu-ibu perajin batik sekelurahan Banjaran. Mereka menamai diri sebagai kelompok Putri Banjarsari. Nama itu kini dijadikan merek batik yang mereka produksi. “Dulu ada sekitar 15 orang yang aktif membatik. Kini tinggal enam orang saja yang konsisten karena menjadikan batik sebagai mata pencaharian bukan sekedar hobi,” tandasnya.

Beberapa jenis batik kreasi Ika Herlina. Foto : Mall UMKM

Sebagian besar pesanan batik yang masuk ke kelompok batik Banjaran berasal dari instansi-instansi perkantoran baik swasta maupun pemerintahan. Di awal mengembangkan usaha, kelompok Ika dibantu oleh pendamping UMKM Pemkot Kediri dalam menggaet pesanan di kantor-kantor pemerintahan. Pihak kelurahan pun memesan seragam batik mereka ke Ika dan kelompoknya. Sejak saat itu, semakin banyak pesanan dari instansi-instansi lain.

“Sistemnya getok tular, jadi pesanan rata-rata berupa partai besar dari instansi dan dikerjakan secara berkelompok. Tapi disamping itu ada beberapa pesanan perorangan yang ditujukan untuk masing-masing ibu-ibu,” tambahnya.

Ika sendiri memproduksi beberapa jenis batik yakni tulis, dan cap. Dia juga menerima pesanan kain ecoprint yakni kain dengan motif daun dan warnanya pun asli dari dedaunan tersebut. Biasanya daun yang digunakannya adalah daun lanang dan daun jati. Untuk satu lembar batik tulis dan kain ecoprint dibanderol harga Rp 300 ribu per lembar dengan panjang 2 meter. Sedangkan batik cap Rp 150 ribu per lembar.

“Kita ada katalog motif. Tapi pembeli juga bisa memesan motif khusus sesuai keinginan,” bebernya.

Ika Herlina memperlihatkan kain batik karyanya. Foto : Mall UMKM

Meski relatif stabil, bukan berarti tidak ada tantangan yang dihadapi Ika. Perempuan asli Banjaran ini pernah mendapatkan pesanan dari konsumen yang cukup perfeksionis. Sang konsumen berkali-kali meminta pewarnaan ulang karena kain batik yang dihasilkan tidak sesuai dengan keinginannya. Selain warna yang diminta “tidak umum”, Ika juga dihadapkan pada deadline pengerjaan. Hal ini membuat Ika stress dan kecapekan hingga jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit.

Pasca sembuh, Ika pun memutuskan untuk berhenti sementara selama hampir setahun. Seluruh perkakas membatiknya disimpan sang suami agar Ika tidak berkeinginan untuk produksi kembali. Namun karena terlanjur jatuh cinta, Ika pun akhirnya kembali membatik setelah tubuhnya sehat dan tidak lagi tertekan. “Sekarang semakin senang membatik,” pungkasnya bahagia.

Lokasi : Kelurahan Banjaran gang II No 217 Kota Kediri

WhatsApp : 085331792229

Give a Comment