Batik Semanding, Sediakan Motif Kuda Lumping Hingga Tahu Kuning

Tidak banyak area yang tersedia untuk membatik karena rumah Nanik Wijayati yang berada di Kelurahan Dermo, Kecamatan Mojoroto, sedang direnovasi. Namun perempuan 52 tahun ini tetap asyik memainkan kuasnya di atas kain katun yang sudah bermotif. Dia memanfaatkan ruang tamu dan teras depan untuk melanjutkan pekerjaan membatik yang belum selesai.

Ada banyak tumpukan kain batik yang dipajang di ruangan paling depan. Motifnya beraneka ragam dan warnanya pun bermacam-macam. Di sana juga terdapat mesin jahit yang terlihat sering digunakan. Ini menandakan bahwa sang pemilik juga aktif menjahit selain bergelut dengan batik.

“Sejak muda saya aktif menjahit. Setelah dapat pelatihan di tahun 2015 saya punya hobi baru yakni membatik,” terang Nanik.

Berbagai bentuk motif dan warna Batik Semanding yang beraneka ragam

Dari puluhan orang yang ikut pelatihan, tidak semua melanjutkan usaha di bidang batik. Nanik sendiri memutuskan terjun di dunia batik karena menyukainya. Sudah banyak motif dan teknik pewarnaan hasil eksperimennya.

Di luar motif favorit seperti kuda lumping, tahu kuning, dan ikon lain yang sudah ada, Nanik terus bereksplorasi. Salah satunya adalah motif hewan-hewan air dengan warna terakota. “Motif ini tahun lalu menang juara satu tingkat Kota Kediri,” tambah perempuan yang saat ini menjadi ketua kelompok usaha Batik Dermo ini.

Nanik sebenarnya tidak begitu tahu apa yang menyebabkan batiknya menjadi yang terbaik. Menurutnya kemungkinan besar ada di warnanya yang unik dan belum banyak digunakan perajin batik lain. Warna terakota buatannya merupakan percampuran warna oranye dan sedikit warna cokelat. Kini warna ini menjadi warna resmi batik Jawa Timur.

Pengalamannya sebagai penjahit membuat Nanik peka terhadap posisi motif. Dia tahu bagaimana posisi motif batik yang menarik agar ketika dijahit menjadi pakaian jadi, tidak banyak kain yang terbuang. Untuk memudahkan pelanggan, dia juga menerima pesanan baju jadi berbahan dasar kain batik.

“Banyak orang yang senang beli kain batik tapi malas untuk menjahitkannya. Di saya bisa sekalian pesan baju jadi,” promosinya.

Selain kain batik, Nanik juga membuat sajadah dari kain batik. Barang ini cukup banyak dibuat karena memanfaatkan kain-kain perca yang panjangnya tidak sampai dua meter. Dalam seminggu, Nanik bisa membuat dua sajadah atau satu kain batik. “Itu untuk stok jadi lebih santai ngerjainnya,” jelas pemilik merek Batik Semanding ini.

Nanik Wijayati sedang mewarnai sajadah motif batik.

Untuk harga sajadah per unitnya dijual Rp 110 ribu-120 ribu. Sedangkan untuk kain batik tulis dengan pewarna sintetis dibanderol Rp 250 ribu – Rp 300 ribu. Ada juga batik tulis dengan pewarnaan alam harganya Rp 400 ribu karena lebih rumit prosesnya. Nanik juga menerima pesanan masker kain batik. Harganya Rp 15 ribu per piece. Untuk pemasaran, sejauh ini Nanik lebih fokus ke penjualan offline daripada online.

Selain di galeri pribadi di rumah, Nanik juga menitipkan produk batiknya di galeri kelompok yang lokasinya di salah satu toko anggota. Selain dari penjualan pribadi, perempuan yang juga seorang guru PAUD ini juga mengandalkan pesanan dari institusi yang masuk ke kelompok Batik Dermo.

“Kalau ada pesanan lewat kelompok, pengerjaannya dibagi-bagi ke anggota. Pendapatan dari sana juga lumayan,” pungkasnya.

Lokasi : Perumahan Griya Intan Permai Blok HD-01, RT 05/RW 03, Kelurahan Dermo.

WhatsApp : 0852 3204 8169

Instagram : nanikwijayatii

Give a Comment