Dongkrak Penjualan, Stik Tahu Lin Bidik Pasar Tradisional

Dulu Romario fokus memproduksi tahu mentah. Namun sejak tahu keuntungan usaha stik tahu cukup menggiurkan, pria 26 tahun ini pun mencoba menjalankannya. Saat ini dia masih mencoba mengembangkan usaha tersebut di tengah keterbatasan modal dan alat produksi. Kini usaha stik tahu merek Lin ini pun mulai menemukan pasarnya.

“Saya jualnya ke pasar tradisional,” terang pria yang akrab disapa Rio ini.

Menurut Rio, tempat inilah yang masih jarang dilirik para pelaku usaha stik tahu. Pada umumnya mereka menjual produknya di pusat oleh-oleh atau di toko masing-masing. Padahal pasar tradisional juga cukup menjanjikan. Ada banyak orang berbelanja setiap harinya di sana meski “pasar becek” tidak cukup nyaman bagi wisatawan.

 “Meski lokasi penjualan tidak mewah, rasa stik tahu saya tidak kalah dengan yang dijual di pusat oleh-oleh,” tambahnya.

Rio sendiri baru menjadi produsen tahu pada tahun 2018 lalu. Saat itu dia rutin memproduksi tahu putih dan kuning segar. Setelah ada pencanangan Kampung Tahu Tinalan pada tahun 2019, pria yang aktif di karang taruna ini ikut menjadi pengelola dan mendapat tugas pendataan. Saat itulah Rio akhirnya tahu ternyata usaha pengolahan tahu menjadi camilan stik cukup menguntungkan.

Meski menjadi warga asli Tinalan, Rio masih minim pengetahuan cara membuat stik tahu. Dia kemudian mencoba mencari ilmunya dari para tetua yang sudah memulai usaha stik lebih dulu. “Selain faktor laba, saya juga ingin berpartisipasi meramaikan program kampung tahu ini,” bebernya.

Meski secara teori Rio paham, praktiknya tidak semudah itu. Pasalnya dia hanya tahu proses dasarnya tanpa tahu teknis detailnya. Makanya dia pun mencoba-coba sendiri selama tiga bulan hingga akhirnya didapatkan rasa dan tekstur yang pas.

“Dulu awal-awal tidak langsung berhasil. Kadang keasinan, kadang bantat, alot, dan tidak mengembang. Sekarang tidak lagi kesulitan,” tambahnya.

Belum lagi kendala cuaca. Sinar matahari yang sangat diperlukan saat proses pengeringan menjadi barang langka ketika musim penghujan. Rio pun beralih menggunakan oven tenaga listrik demi mendapatkan tekstur stik yang renyah dan mengembang.

“Kalau pakai oven bisa semalaman. Itupun hasilnya tetap tidak sebagus menggunakan panas matahari,” bebernya.

Produk Stik Tahu Lin yang mengembang, renyah, dan gurih.

Proses pembuatan stik tahu sendiri relatif lebih rumit daripada tahu biasa. Jika tahu segar bisa langsung jadi dalam sehari, stik tahu baru siap jual setelah menjalani proses selama seminggu lamanya. Meski demikian pendapatan dari stik tahu tetap jauh menguntungkan daripada menjual tahu segar setiap hari.

“Selain jualan stik tahu, saya tetap produksi tahu mentah. Jadi ada penghasilan harian,” katanya.

Rio memproduksi tahu segar dan stik tahu secara bergiliran karena tempat produksinya masih menyewa. Setiap produksi, dia mengolah 8 – 9 kg kedelai untuk tahu putih, dan 14 kg kedelai untuk tahu kuning. Sedangkan untuk stik tahu, Rio membutuhkan 8 kg kedelai.

Proses pembuatan tahu pada dasarnya sama saja. Hanya saja untuk stik tahu, proses pressing pati kedelai lebih lama daripada tahu mentah. “Hasilnya nanti untuk stik, tahunya lebih tipis dan padat. Kalau ukurannya dipotong memanjang sesuai selera saja,” jelasnya.

Romario menunjukkan produk stik tahu buatannya.

Produk stik tahu merek Lin, oleh Rio dijual dengan harga Rp 10 ribu per ons, dan Rp 5 ribu per kemasan 50 gram. Sedangkan untuk tahu putih segar dijual Rp 750 per biji, dan tahu kuning dijual Rp 15 ribu per 10 biji. Penjualannya rutin di Pasar setonobetek, Pasar Pesantren, dan Pasar Pahing.

“Dulu ada inovasi aneka rasa untuk stik tahunya. Tapi masyarakat lebih senang yang original jadi sekarang produksi satu jenis varian saja,” pungkasnya.

Lokasi : Kelurahan Tinalan gang 4 barat No. 62 B, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

WhatsApp : 0857 3580 5207

Give a Comment