Ekspansi Ke Keripik Pisang, Anik Siapkan Jangka Sorong Untuk Ukur Diameter

Merek Mak Plengeh selama ini selalu identik dengan bolu kering. Namun ternyata ada produk baru yakni keripik pisang. Jika sebelumnya camilan ini hanya sebagai pelengkap, kini Anik Wahyuningsih menaruh perhatian lebih pada proses produksinya. Bahkan dia berencana untuk memasuki pasar ekspor.

“Sebelumnya keripik pisang kulakan di tempat lain karena hanya untuk memenuhi permintaan saja. Tapi sekarang fokus buat sendiri,” terang Anik.

Penambahan core bisnis Anik ini bukan tanpa alasan. Selama wabah corona, usaha bolu kering miliknya sempat sepi. Akibat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), distribusi ke pedagang besar bolu kering tersendat. Agar pekerja tetap ada kegiatan produksi, Anik pun banting setir dengan memproduksi keripik pisang.

“Produk ini dari dulu banyak yang minta, dan maunya standar Mak Plengeh. Baru sekarang ini akhirnya keinginan tersebut kami penuhi,” tambahnya.

Berbeda dengan sistem pemasaran bolu kering yang terpusat di pedagang besar, Anik memilih memasarkan produk keripik pisangnya ke retail-retail di sekitar Kediri. Kini dia merekrut SPG khusus untuk mengenalkan produk baru Mak Plengeh ke pasaran. “Untuk yang keripik ini buka pasar baru, bukan pakai jaringan yang sudah ada,” bebernya.

Untuk produksi keripik pisang, Anik menggunakan mesin produksi berkapasitas 80 kg keripik jadi. Demi memenuhi permintaan pasar, saat ini dia masih terus meningkatkan kapasitasnya hingga dua kali lipat. Selain itu, Anik juga meningkatkan kualitasnya yakni dengan menyeragamkan tampilan akhir keripik mulai dari ukuran dan warnanya.

“Saya gunakan kualitas ISO (Standar Organisasi Internasional, red) demi bisa memenuhi standar pasar ekspor,” tambah ibu tiga anak ini.

Anik menggunakan jenis pisang agung dan membelinya langsung dari petani sekitar Kediri. Sejak menerima bahan baku, perempuan 53 tahun ini melakukan penyortiran secara ketat. Bahkan dia berniat membeli sigmat atau jangka sorong untuk mengukur diameter pisang yang masuk. Hanya pisang dengan diameter tertentu saja yang digunakan. “Saya sengaja perketat sejak di awal agar hasilnya konsisten,” tandasnya.

Begitu pula untuk pengolahannya. Setiap pisang dengan tingkat kematangan yang berbeda akan diolah secara terpisah. Karena menurut Anik, cara mengolah pisang yang masih putih dan kuning berbeda. Dengan begitu, produk akhir yang dihasilkan bisa seragam dari segi warna dan teksturnya.

“Prinsip bisnis saya pertama produk harus sesuai standar. Kedua rasanya harus lebih enak dari pasaran. Jadi saya bisa percaya diri jika harus mengenalkan produk saya ke konsumen,” ungkap lulusan Teknologi Pangan Universitas Brawijaya ini.

Bolu kering Mak Plengeh masih tetap diproduksi meski permintaan sempat tersendat.

Meski mulai fokus di keripik pisang, bukan berarti bolu kering ditinggalkan. Anik sampai saat ini masih akif memproduksi bolu kering dengan gambar senyum khas Mak Plengeh. Hanya saja selama wabah corona jumlahnya berkurang. Jika nanti kondisi sudah normal kembali, kapasitasnya akan terus ditambah hingga mencapai kapasitas normal yakni sekitar 1,5 kuintal bolu jadi per hari.

“Saat ini bolu kering produksi berdasarkan pesanan. Atau sekitar tiga hari sekali,” katanya.

Bolu kering Mak Plengeh memiliki tekstur yang renyah namun lembut di mulut. Tersedia tujuh varian rasa dengan gambar senyum di setiap butirnya. Kemasannya pun tidak sembarangan agar isinya tidak mudah rusak atau terkontaminasi. Makanya tanpa pengawet pun, produk ini tahan hingga satu tahun lamanya.

Lokasi : Jalan Kapten Tendean No. 285, Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren

Facebook : Bolu Mak Plengeh

Instagram : Bolu Kering Mak Plengeh

WhatsApp : 0821 3159 3494

Give a Comment