Gunakan Bahan Segar, Keripik Usus “Muno” Diburu Pembeli

Mujiah menjalankan usaha keripik usus sendirian selama lima tahun terakhir. Pasarnya yang sebelumnya menyasar anak-anak sekolah meredup karena pandemi dan kompetitor. Meski demikian perempuan 47 ini tidak patah semangat. Usahanya tetap berjalan konsisten dan produknya yang bermerek “Muno” tetap dicari para konsumen loyal.

“Penjualan menurun hingga sepertiganya tapi Alhamdulillah sampai saat ini produk masih laris setiap harinya,” terang Mujiah yang baru saja selesai menggoreng keripik ususnya.

Setiap hari Mujiah mengolah sekitar 5 kg usus ayam segar. Dia mendapatkan bahan baku dari para penjual ayam di Pasar Bence yang berada tidak jauh dari rumahnya di Lingkungan Bence, gang 1. Mujiah relatif mudah mendapatkan usus segar karena sudah memiliki penjual langganan.

“Dulu karena butuhnya banyak, saya sampai memberikan DP (uang muka, red) ke penjual agar ususnya tidak dijual ke orang lain. Sekarang tidak lagi karena butuhnya tidak sebanyak dulu,” tambahnya.

Mujiah sangat menjaga kualitas bahan bakunya. Beberapa ciri usus yang baik adalah berwarna kuning segar, mengembang, dan tidak berbau. Jika mendapati usus yang kualitasnya buruk, dia tidak sungkan menegur pedagangnya agar tidak lagi menjual usus yang tidak layak. “Usus itu tidak bagus itu karena salah perlakuan setelah hewan disembelih. Jadinya nggak bagus. Kalau pedagang saya sampai menjual yang jelek pasti saya ingatkan,” tandasnya.

Tidak hanya berpengaruh pada rasa saja. Menurut Mujiah usus yang jelek juga berpengaruh pada tampilan dan hasil akhirnya. “Kalau digoreng jadi tidak renyah. Yang harusnya bisa jadi 7 ons keripik jadi hanya 4-5 ons saja,” ungkapnya.

Proses penggorengan keripik usus Muno oleh Mujiah

Di awal usaha produksi keripik usus, Mujiah dengan tekun melakukan percobaan resep. Pengalamannya di bidang makanan ringan membuatnya tidak perlu mencari contekan resep dari internet seperti kebanyakan orang. Semua dia lakukan berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya sendiri.

“Saya coba-coba terus sampai belasan kali. Kalau terigunya dicampur maizena kok begini, kalau campur tapioka kok jadinya begitu. Saya coba-coba sampai akhirnya dapat resep yang pas seperti yang sekarang,” bebernya.

Harga keripik usus yang dijual Mujiah relatif lebih mahal. Untuk kemasan ukuran 250 gram dijual Rp 17.500. Sedangkan kemasan 100 gram harganya Rp 7 ribu, dan ukuran 60 gram dijual Rp 4 ribu. Dia berani membanderol harga sedikit di atas pasaran karena dia menggunakan usus segar dan tidak menggunakan bahan berbahaya.

Jika dibandingkan, harga usus mentah jauh lebih mahal yakni Rp 20 ribu hingga Rp 22 ribu per kg. Sedangkan usus sisa pabrik makanan hanya Rp 9 ribu per kg karena bukan produk segar. Untuk membuang baunya, pengolah keripik biasanya menggunakan kapur gamping. Makanya harga keripik usus pabrik yang dijual bebas harganya jauh lebih murah.

Mujiah menunjukkan produk keripik usus Muno yang siap jual

Sedangkan Mujiah lebih memilih menggunakan rempah-rempah untuk menghilangkan bau amis usus. Mulai dari ketumbar, jeruk nipis, hingga cuka makanan. Bahkan dia tidak menggunakan soda kue agar keripik usus memiliki rasa yang nikmat, dan gurih tanpa sensasi pahit.

“Makanya saya percaya diri meski mematok harga lebih mahal. Toh masih banyak yang nyari karena rasanya memang enak,” tegasnya.

Sebenarnya permintaan keripik usus Muno cukup banyak. Namun Mujiah tidak memiliki keinginan untuk memperbesar skala produksinya karena keterbatasan tenaga. “Dulu pernah dibantu keponakan jualan online. Tapi saya nggak sanggup kalau sendirian. Jadi begini saja dulu untuk saat ini,” pungkasnya.

Lokasi : Lingkungan Bence gang I/26, Pakunden, Kota Kediri

WhatsApp : 085713266725

Give a Comment