Heri Tri Santoso, Tiba-tiba “Kejatuhan” Pesanan Meski Belum Menjadi Perajin Tenun

Ada yang menarik dari sosok Heri Tri Santoso, ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Tenun Ikat Bandarkidul, Kota Kediri. Meski terbilang pendatang baru di bidang tenun, pria 53 tahun ini justru ditunjuk rekan-rekan sesama perajin sebagai ketua kelompok. Heri pun mencoba menjalankan perannya tersebut sebaik-baiknya.

“Baru jadi penenun lima tahunan. Jika dibandingkan rekan-rekan yang sudah akrab dengan tenun sejak kecil, saya tidak ada apa-apanya,” terang Heri.

Meski tergolong baru, Heri bisa mempelajari tenun dengan cepat. Kini dia semakin mahir dalam menjalankan bisnis tenun. Mulai dari segi manajemen usaha hingga teknis produksi tenun. Pembawaannya yang ramah dan mudah membaur di masyarakat membuat Heri lebih cepat diterima di lingkungannya.

“Mungkin karena latar belakang saya, makanya rekan-rekan memilih saya menjadi ketua,” ungkapnya.

Sebenarnya Heri adalah warga asli Bandarkidul, Mojoroto, Kota Kediri. Namun sejak menempuh pendidikan tinggi, Heri mulai merantau. Pasca lulus, pria bergelar sarjana ekonomi ini berpindah-pindah tempat ke berbagai daerah untuk bekerja. Berbagai jenis profesi dilakoninya.

Hingga akhirnya Heri pun memutuskan untuk pulang kampung di tahun 2010. Tidak langsung menjadi perajin tenun, Heri mencoba membuka jalan rezekinya di Kediri dengan berjualan gorengan. “Sebenarnya saya punya sawah. Tapi karena sedang saya sewakan, saya jualan gorengan di pinggir jalan waktu itu,” tambahnya saat ditemui di lingkungan tempat tinggalnya.

Setelah masa sewa habis, Heri pun beralih menjadi petani dan mengolah lahannya sendiri. Di tengah-tengah keasyikannya bertani itulah, bapak tiga anak ini tiba-tiba mendapatkan pesanan baju seragam dari koleganya di Surabaya. Sebenarnya Heri saat itu sedang tidak menjalankan bisnis konveksi maupun tenun. Namun karena merasa sayang jika melewatkan peluang tersebut, dia pun kemudian menyanggupinya.

“Sejak saat itulah saya mulai mencoba menjalankan usaha tenun, sekitar tahun 2015 lalu,” ungkapnya.

Heri Tri Santoso, ketua KUB Tenun Ikat Bandarkidul sedang menjelaskan cara membuat motif tenun. Foto Mall UMKM/Dina Rosyidha

Heri memulai profesi barunya ini dari nol karena sama sekali tidak memiliki pengalaman maupun pengetahuan tentang tenun. Di awal usaha, Heri langsung membeli dua alat tenun. Dia belanja sendiri seluruh kebutuhan dan perlengkapan yang diperlukan. Heri tidak pernah sungkan untuk bertanya-tanya kepada siapapun yang ditemuinya. Mulai dari rekan-rekan sesama perajin, penjual alat tenun, bahkan para pekerjanya sendiri.

“Selama setahun lebih saya amati terus bagaimana pekerja saya melakukan proses tenun hingga akhirnya saya paham dan tahu trik-triknya,” beber pria yang juga pemilik usaha tenun Risquna JC tersebut.

Meski baru berkecimpung di bisnis tenun ikat, Heri tidak kesulitan mencari segmentasi konsumen. Sejak awal, dia berkomitmen menghasilkan tenun kualitas terbaik. Dia memilih menggunakan alat tenun dengan sisir benang 90 daripada alat tenun dengan sisir benang 70 atau 80 yang biasa digunakan perajin lain.

Kain tenun yang dihasilkan sisir 90 lebih rapat karena membutuhkan lebih banyak benang. Jika pengusaha lain bisa menghasilkan 34 potong kain dari satu rol benang, Heri hanya menghasilkan 28 potong saja. Jelas harga yang dipatok pun lebih mahal dari harga kain tenun kebanyakan. Satu lembarnya dibanterol Rp 200 ribu terlepas dari kerumitan motifnya.

“Kalau motifnya lebih rumit harganya bisa lebih mahal,” tandasnya.

Meski lebih mahal, ada banyak keunggulan dari kain tenun sisir 90. Kain yang dihasilkan tidak mudah berkerut dan warnanya lebih awet. “Kalau pesannya berorientasi pada jumlah, misalkan untuk seragam, larinya ke kain yang murah. Tapi untuk pesanan perorangan atau souvenir biasanya pesan ke saya karena lebih memperhatikan kualitas,” jelasnya.

Di luar kegiatan usaha, tantangan besar yang dihadapi Heri justru ketika harus menjalankan perannya sebagai ketua KUB. Pasalnya tidak mudah mengatur banyak orang. Sembilan pelaku usaha yang tergabung dalam kelompoknya, memiliki kepentingan dan kesibukan yang berbeda-beda. Hal ini membuat mereka sulit untuk digerakkan ketika ada acara-acara yang berkaitan dengan tenun.

“Misalkan ada kunjungan pejabat atau sedang ada event, saya yang harus pontang-panting sendirian. Kadang dibantu Pak Harul (rekan pengusaha tenun, red). Jadi kalau jadi ketua, jiwa berkorbannya harus tinggi,” tandasnya.

Tahun depan dikabarkan akan ada pemilihan ketua KUB yang baru. Heri berharap akan ada ketua pengganti baru yang terpilih. Bahkan dia berencana mengusulkan agar posisi ketua KUB nantinya bisa dijabat oleh seluruh pelaku usaha secara bergiliran.

“Jadi semuanya bisa ikut merasakan posisi ketua dan mau berperan aktif untuk lingkungan,” pungkasnya.

Give a Comment