Hobi Menjahit, Lilis Winarsih Rela Numpang Mesin Saat Remaja

Setelah 18 tahun bekerja di toko elektronik, Lilis Winarsih memutuskan resign. Selain sudah ada tanggungan anak, dia juga rindu dengan hobi sekaligus cita-citanya di masa kecil yakni menjadi penjahit. Kebetulan saat keinginan tersebut membuncah, ada temannya yang membuka usaha konveksi. Lilis pun langsung banting setir ke industri fesyen skala rumahan.

“Saat itu sekitar tahun 2014,” terang Lilis.

Semasa sekolah menengah pertama, Lilis sudah akrab dengan mesin jahit karena ikut pelajaran menjahit. Saat melanjutkan ke jenjang menengah atas, dia sebenarnya ingin masuk ke SMKN 3 Kediri karena jurusan tata busananya cukup maju. Namun perempuan 45 tahun ini memutuskan masuk ke jurusan akutansi di SMKN 2 Kediri.

“Saya pikir belajar njahitnya ke lembaga kursus saja,” tambahnya.

Saat remaja, Lilis memiliki keinginan membuat baju kemeja sendiri. Untuk merealisasikan hasrat tersebut, dia sampai meminjam mesin jahit milik temannya selama sehari penuh. “Bikinnya sih bisa, tapi karena keterbatasan alat jadi harus numpang,” ujarnya antusias.

Pasca lulus kuliah, Lilis memilih menjadi admin pajak sesuai dengan kualifikasi pendidikannya. Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ibu dua anak ini ingin menjalankan usaha sendiri di bidang konveksi. Ketika ada temannya yang buka usaha, Lilis ikut bergabung sambil mempelajari kembali keterampilan yang sudah lama ditinggalkan.

“Saya belajar lagi terutama bagaimana menjalankan mesin-mesin yang dulu belum umum seperti mesin jahit listrik, mesin obras dan mesin lainnya,” bebernya.

Kegiatan produksi Adinda Clothing yang masih satu lokasi dengan kediaman Lilis Winarsih

Tidak perlu lama untuk bisa mengoperasikan sendiri mesin-mesin tersebut. Lilis pun kemudian memutuskan membuka usaha konveksi sendiri di rumahnya yang berada di Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri. Setelah enam tahun berjalan, usaha konveksi yang bernama Adinda Clothing ini semakin berkembang.

Saat ini Lilis sudah memiliki mesin jahit, mesin obras, roll dan mesin overdeck. Sedangkan pekerjanya sudah ada empat orang yang rutin bekerja setiap hari. Meski pengerjaan berdasarkan pesanan, pekerja Lilis tidak pernah libur. Ketika sedang ramai-ramainya, Lilis harus merekrut tenaga lepas untuk memenuhi pesanan.

“Kapasitas produksi sehari bisa sampai 100 kaos,” ujarnya

Rata-rata pesanan yang masuk adalah pesanan kaus, seragam, hingga goodie bag dari instansi pemerintah maupun swasta. Selama corona, Lilis juga menerima pesanan masker yang dipesan secara kolektif. “Pemasaran di sekitar Jawa dan sebagian sudah sampai ke luar Jawa,” katanya.

Meski masih menyasar pasar offline, Lilis tidak pernah sepi pesanan. Pasalnya hasil jahitannya cukup rapi dan ukurannya sesuai standar yang umum digunakan. Jenis bahan yang digunakan pun sesuai dengan pesanan. Kualitas inilah yang selalu dijaga Lilis karena promosinya selama ini masih getok tular.

Berbagai jenis kaus hasil pengerjaan Adinda Clothing

Meski tidak sepi pesanan, perempuan kelahiran 1975 ini berencana untuk merambah pasar online. Hanya saja sejauh ini Lilis masih mengalami kendala di tenaga kerja. Pasalnya tidak semua orang bisa menjahit dengan rapi dan telaten. “Karena pekerja masih terbatas, kapasitas produksinya juga terbatas,” tandasnya.

Lokasi : Jalan BTN No. 15, Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri

WhatsApp : 0813 3206 8299

Give a Comment