Jadi Perajin Batik, Aria Ulfa Heran “Produk Gagalnya” Justru Laku Lebih Mahal

Aria Ulfa belajar batik sejak 2014. Saat itu dia bersama ibu-ibu PKK lainnya diikutkan pelatihan membatik. Setelah merasakan asyiknya menyanting, perempuan 40 tahun ini memutuskan untuk mendalami usaha batik. Dia akhirnya membentuk kelompok Batik Dermo bersama dengan beberapa rekan pelatihan.

“Tidak semua mau lanjut. Dari 20-an orang hanya ada sekitar tujuh orang yang lanjut menekuni batik, termasuk saya,” terang Aria.

Selama enam tahun terakhir, kegiatan membatik dilakukan secara kolektif. Mulai dari diskusi motif, promosi, penjaringan pesanan, hingga proses produksi. Setiap ada ide motif baru batik, Aria selalu berdiskusi dengan perajin satu kelompok agar didapatkan motif yang semakin menarik.

“Motif kita gunakan bersama, tidak ada eksklusifitas di sini,” tambahnya.

Begitu pula saat mendapatkan pesanan. Biasanya orderan masuk dari instansi dan dalam jumlah cukup banyak. Makanya pengerjaannya pun dibagi ke seluruh anggota kelompok yang mau dan sedang ada waktu membuat. Hasilnya dibagi rata sesuai dengan jumlah kain yang disetorkan ke kelompok.

“Sejak dapat pesanan, kita tentukan dulu motifnya hingga warna yang digunakan. Setelah itu dikerjakan di rumah masing-masing karena perbedaan kesibukan. Hasilnya diberikan lagi ke kelompok,” beber ibu dua anak ini.

Produk kain batik produksi Jumroto Batik.

Saat awal-awal belajar membatik, Aria mendapatkan pengalaman yang menarik. Saat itu Kelompok Batik Dermo sudah membuka galeri yang isinya batik-batik buatan ibu-ibu. Karena masih pemula, sesekali hasil batiknya tidak selalu bagus. Meski demikian kain tersebut tetap dipajang di galeri.

Ternyata beberapa kain batik yang dianggap tidak sempurna justru laku. Aria bercerita pernah kedatangan pengunjung asal Tiongkok. Pria tersebut ternyata kepincut motif kuda lumping dengan pewarnaan alam dan kain ecoprint. Warnanya cenderung pudar dan sebenarnya tidak menarik.

“Kami sempat heran. Tanya ke pendampingnya, kenapa kok dibeli? Katanya batiknya unik. Kalau disuruh bikin lagi pasti tidak bisa,” jelas Aria mereka ulang percakapan di masa lalu.

Kejadian yang hampir sama juga terjadi saat ada kunjungan dari salah satu institusi POLRI asal Makasar. Saat itu sang pimpinan justru membeli batik motif ikan koi yang catnya tidak rata dan dianggap jelek oleh perajin Batik Dermo. Ternyata alasannya sama yakni unik dan tidak akan ada yang ngembari.

“Barang reject tapi justru lakunya lebih mahal karena pembeli senang,” katanya.

Meski aktivitas usaha kelompok Batik Dermo cukup solid dan berjalan baik, para anggota kelompok disarankan membuat merek untuk usaha pribadi masing-masing. Makanya Aria pun memutuskan untuk menggunakan merek Jumroto Batik. Nama tersebut diambil dari nama panggilannya saat di kantor tempatnya bekerja.

“Saat kerja, kelompok surveyor asal Mojoroto sering dipanggil “Jum”. Saya coba gunakan itu sebagai merek saya karena unik,” ungkap perempuan yang bekerja sebagai mitra Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri ini.

Aria Ulfa, pemilik usaha Jumroto Batik sedang menunjukkan hiasan dinding hasil kerjasama dengan Universitas Brawijaya.

Karena kesibukan di luar membatik, saat ini Aria belum benar-benar fokus mengembangkan usaha Jumroto Batik-nya. Sejauh ini dia masih aktif membatik namun untuk memenuhi pesanan yang masuk ke kelompok Dermo Batik. “Biasanya pesanan yang masuk ke Jumroto dari perorangan jadi sejauh ini produksi belum banyak,” pungkasnya.

Lokasi : Perum Griya Intan Permai Blok I/22, Kelurahan Dermo, Kota Kediri

Instagram : jumroto_batik, ariaulfa

WhatsApp : 0822 3111 9609

Give a Comment