Jas Tailor H. Tauchid, Merawat Warisan dengan Gaya Manajemen Ala Milenial

Profesi menjahit khususnya jas ternyata masih punya peluang meski industri busana fast fashion (pakaian jadi dalam jumlah besar) menguasai pasar. Dengan manajemen kekinian, Jas H. Tauchid di Kota Kediri tetap bertahan bahkan tetap membayar karyawannya ketika pandemi.

“Bahkan sebelum Covid-19, saya selalu menyisihkan cost 1 bulan untuk simpanan mati, artinya simpanan yang tidak boleh diambil. Makanya pada saat Covid-19, ketika omzet turun sampai 60%, simpanan itu masih bisa menutup gaji dan THR karyawan,” kata Vitra Akbar Kurniawan (31 th), pemilik Jas Tailor H. Tauhid.

Manajemen kekinian ini yang diterapkan oleh Vitra ketika mewarisi usaha ayahnya, H. Tauchid. Usaha penjahit khusus jas ini sudah dirintis ayahnya sejak tahun 1973. Pada saat itu, karyawan ada 3 orang orang. Banyak tokoh-tokoh penting menjahitkan di sini.

Vitra Akbar Kurniawan, pewaris Jas Tailor H. Tauchid

“Kenapa selalu ada langganan, ya karena babe menjahit “alusan”,” kata Vitra. Menjahit alusan maksudnya menjahit dengan rapi. Selain itu, dalam hal cutting, H. Tauchid punya keahlian sehingga pas dan nyaman dikenakan.

Menurut Vitra, setiap tubuh punya potongan yang spesifik. Hal ini yang dipelajari oleh Vitra dari ayahnya dan dilanjutkan hingga kini.  Setelah mewarisi usaha ayahnya sejak tahun 2009, ia menerapkan metode bisnis kekinian.

“Saya promosi lewat media sosial dan internet. Tapi ternyata, promosi dari mulut ke mulut itu yang mendatangkan lebih banyak pelanggan,” kata Vitra.

Pada zaman ketika industri garmen sangat marak, penjahit khususnya penjahit jas ternyata masih eksis. Promosi dari mulut ke mulut ini memastikan bahwa hasil jahitannya bagus dan nyaman. Hal yang tak mudah diyakinkan melalui internet.

“Selain itu, saya menyelesaikannya tepat waktu. Bahkan beberapa hari sebelum deadline, biasanya jahitan sudah selesai,” tambah Vitra. Manajemen waktu ini yang kerap kali luput oleh penjahit yang menerapkan bisnis lama.

Vitra menghitung dengan detail soal waktu dan jumlah klien, selain itu masih menyisakan waktu kosong untuk klien tetap yang selalu datang menjelang hari H sebuah event. Misalnya menjelang Lebaran. Seminggu sebelum Lebaran, ia sudah menutup pesanan untuk menjaga klien tetap ini datang.

Menurut Vitra, satu setelan jas bisa diselesaikan selama 2 hari dengan tarif antara Rp 600 ribu-Rp 750 ribu. Tapi ada juga pelanggan yang memesan paket plus bahan sekalian. Untuk paket ini, Vitra mematok tarif antara Rp 900 ribu-Rp 4 juta tiap stel.

Sebelum Covid-19, ia bisa menyelesaikan 20 stel/bulan. Kini pesanan tinggal 6 stel/bulan. Kebanyakan dari pondok pesantren. Karena Covid-19, tak ada kegiatan, maka pesanan jas pun sepi.

Di sisi lain, menurut Vitra, hal yang diperlukan para UMKM ini adalah penguruan perizinan dan pematenan atau terkait legal.

“Kadang teman-teman itu malas urus takut dipungut macam-macam. Nah, saya dapat bantuan dari Dispedindagin untuk mengurus perizinan dan hak cipta dengan gratis. Itu sangat membantu,” tambah Vitra.

Give a Comment