Jemary Craft By Bonita, Masker Sulam dan Rajutnya Disukai Ibu-Ibu Persit

Pandemi tidak sepenuhnya mematikan usaha kecil menengah. Usaha rajut Aloysia Nita Sunaringtyas justru kebanjiran orderan. Dia banyak menerima pesanan masker dari para ibu-ibu Persatuan Istri Tentara (Persit) termasuk ibu-ibu pejabatnya. Bahkan produk buatan Nita bisa sampai ke luar daerah.

“Paling banyak pesanan masker dan konektornya,” terang Nita.

Selama wabah corona, ada banyak pesanan masker yang diterima ibu tiga anak ini. Sebagian besar berasal dari instansi koramil sekitar Kota dan Kabupaten Kediri. Ada setidaknya 23 kantor yang pesan dengan jumlah masing-masing 2 lusin masker. Sesekali Nita juga menerima pesanan dari luar kota.

“Rata-rata pesanan kolektif dari instansi. Ada yang berupa rajut, ada yang masker sulam,” tambahnya.

Menjadi istri tentara yang sering pindah dinas tidak membuat Nita bingung mencari kesibukan yang menghasilkan. Ketika tinggal di Malang, Nita menjalani usaha konveksi kecil-kecilan. Namun usaha tersebut tidak diteruskan lagi karena sumber bahan bakunya menjadi jauh setelah pindah ke Kota Kediri.

“Saya memutuskan untuk ganti usaha karena jarak dengan pasar besar jadi jauh,” beber perempuan asli Mojoroto, Kota Kediri tersebut.

Aloysia Nita, pemilik usaha Jemary Craft By Bonita sedang asyik menyulam kain yang akan dijadikan masker.

Sebenarnya Nita sudah terbiasa merajut sejak kecil. Dia terispirasi dari sang eyang. Perempuan 45 tahun ini bahkan sudah aktif merajut sejak berada di bangku sekolah dasar. Dia akhirnya mencoba menjalankan usaha rajut setelah mendapat tantangan dari rekannya untuk membuat tas rajut.

“Saya diminta buat tas dengan contoh yang sudah ada. Dan bisa. Akhirnya usaha rajut saya teruskan sampai saat ini,” beber pemilik usaha rajut bermerek Jemary Craft by Bonita ini.

Usaha rajutnya resmi dimulai di tahun 2016 lalu. Dari sekian banyak jenis barang fesyen, Nita lebih senang membuat tas. Selain bentuknya yang besar dan lebih “terlihat”, harganya juga relatif lebih mahal dari barang lainnya. Selama pandemi, Nita sesekali masih mendapat pesanan tas meski tidak banyak.

“Setidaknya sebulan sekali dapat orderan tas. Sisanya masker,” ujarnya.

Tidak hanya rajut, Nita juga bisa menyulam. Untuk pesanan masker sulam, perempuan yang akrab disapa Bonita ini bisa menyelesaikan selusin masker per hari. Sedangkan untuk masker rajut lebih rumit pengerjaannya sehingga hanya bisa menghasilkan dua masker rajut saja per hari.

“Kalau dapat pesanan membludak, sebagian masker sulam saya limpahkan ke teman komunitas. Tapi kalau rajut harus saya sendiri karena hasilnya pasti berbeda,” tandasnya.

Makanya Nita sering merasa kesulitan jika menerima pesanan masker rajut dalam jumlah besar. Waktu pengerjaannya yang lama membuat pesanan lainnya menjadi terhambat dan tidak bisa segera dikerjakan. “Tapi untuk masker rajut, semua konsumen mau sabar menunggu karena memang lama,” katanya.

Agar sesuai standar, masker rajut dilapisi furing di dalamnya. Untuk harga masker sulam Nita mematok harga Rp 20 ribu, sedangkan untuk masker rajut lebih mahal yakni Rp 30 ribu. Jika ada tambahan hiasan harganya menjadi Rp 35 ribu per masker.

Untuk harga tas dibanderol Rp 200 ribu – Rp 350 ribu. Dan yang tidak kalah ngetrennya yakni waist bag. Harganya sekitar Rp 225 ribu – Rp 250 ribu. “Banyak yang pesan karena sekarang sedang ramai-ramainya orang gowes,” pungkasnya.

Lokasi : Jalan KH Ahmad Dahlan, gang VIII/16, Kelurahan Mojoroto, Kota Kediri

Facebook : Aloysia Bonita

Instagram : jemary_craft_bybonita

WhatsApp : 0812 1679 823

Give a Comment