Kain Jumputan Galuh Kadiri, Hanya Perlu Waktu 15 Menit Untuk Pewarnaan

 

Galuh Kadiri masih satu-satunya produsen kain jumputan di Kota Kediri. Lokasinya di Perum Griya Intan Asri, Kelurahan Dermo, Kecamatan Mojoroto. Usaha yang berdiri sejak tahun 2010 ini memproduksi beragam corak dan perpaduan warna yang disesuaikan dengan tren fesyen kekinian.

“Sebelumnya usaha ini dirintis ibu saya. Tapi sejak 2013 lalu, saya bantu pegang bagian pewarnaan,” terang Wahidin Agus Rahmadi, pemilik Galuh Kadiri.

Selama menjalankan usaha ini, Adi terus berinovasi untuk mendapatkan produk berkualitas. Dulu kain jumputan buatannya menggunakan pewarna wantex namun banyak konsumen yang mengeluh warnanya kurang awet, dan gampang pudar. Pria 28 tahun ini pun mencoba menggunakan pewarna sintetis panas yang biasa digunakan pada batik. Selain tidak praktis, hasilnya juga tetap kurang memuaskan.

“Saya pernah pakai pewarna napthol, bagus sih. Tapi mahal,” curhatnya.

Adi pun akhirnya menemukan pewarna yang tepat yakni remasol. Teknik pewarnaannya pun berubah. Daripada metode celup, Adi lebih senang menggunakan teknik oles dan ciprat. Hasil yang didapatkan lebih otentik dan semburat warna yang didapatkan lebih artistik.

“Saya lihat di internet ada yang pakai teknik lelehan es. Prosesnya lama sampai seharian. Kalau pakai teknik saya, 15 menit saja sudah jadi,” beber pria yang sebelumnya berprofesi sebagai perawat ini.

Kain jumputan merupakan kain corak sejenis tie dye dengan kearifan lokal. Galuh Kadiri sendiri terinspirasi dari kain sasirangan asal Kalimantan. Adi menggunakan dua teknik tritik jumputan yakni menali kain yang dijumput dan sistem jelujur benang.

Untuk kain yang dijumput menghasilkan motif bulat-bulat seperti sarang laba-laba. Sedangkan motif dari teknik jelujur berbentuk semburat warna yang memiliki alur. Dulu Adi dan istrinya yakni Rika Kusumaningrum tidak memberlakukan aturan ketat pada pekerja saat menjelujur. Namun kini teknik jelujurnya semakin terstandarisasi.

“Jelujuran harus rapat. Jaraknya setengah senti-an (sentimeter, red). Kalau dulu pekerja asal bikin jelujur pokok jadi banyak. Sekarang saya cereweti agar disiplin,” tandas Rika.

Rika Kusumaningrum di antara kain jumputan hasil produksinya.

Rika juga melebihkan kain jumputannya 5 cm dari ukuran standar. Hal ini untuk mengantisipasi ukuran kain berubah saat diproses. Meski demikian ibu satu anak ini menjamin kualitas kainnya bagus karena dia menggunakan kain kualitas premium. “Melebihkan ini hanya untuk antisipasi ketika ada error saja. Lebih baik kepanjangan sedikit daripada kurang,” tegasnya.

Galuh Kadiri menjual kain jumputan dengan ukuran 2 meter x 110 cm seharga Rp 120 ribu per lembar. Sedangkan kaus jumputan dijual Rp 75 ribu – Rp 95 ribu tergantung ukuran dan lengan. Selain berjualan offline di rumah dan galeri UMKM Provinsi Jatim, Rika dan suami juga aktif menjual secara online di media sosial dan market place.

“Penjualan kemana-mana. Beberapa kali dibawa ke Amerika, London, Singapura, dan Malaysia sebagai oleh-oleh,” pungkasnya.

Lokasi : Perum Griya Intan Asri, Blok A-14, Kelurahan Dermo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Instagram : Galuh Kadiri

WhatsApp : 0857 9154 8850

Give a Comment