Kehabisan Bahan Baku Batok, Samsudin Kumpulkan Kelapa Utuh

Permintaan terhadap barang-barang kerajinan semakin meningkat akhir-akhir ini. Hal ini dirasakan oleh Samsudin, perajin kayu dan batok kelapa asal Lingkungan Ngasinan, Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri. Bahkan saat pandemi covid-19, dirinya justru mendapatkan banyak pesanan.

“Pas wabah, pesanan malah banter (kencang, red),” terang pria yang akrab disapa Udin ini.

Bapak dua anak ini mengaku mendapatkan pesanan 100 mangkuk batok kelapa pada Bulan Agustus lalu. Bukannya senang, Udin malah bingung. Pasalnya pemasok bahan bakunya saat itu sedang tidak ada stok batok kelapa. Hal ini jelas membuat Udin tidak bisa langsung menyanggupi pesanan yang masuk.

Biasanya Udin membeli bahan baku batok kelapa dari kenalannya yang buka jasa parut kelapa di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Sayangnya ketika wabah penyakit, tidak ada orang yang memakai jasa parutnya. “Biasanya yang ke sana orang-orang yang punya hajatan atau punya usaha kue. Lha pas wabah kan semua kegiatan dilarang, jadi tidak ada orang marut kelapa,” curhatnya.

Produk-produk kerajinan dari kayu buatan Samsudin

Udin pun mencoba mencari cara lain. Dia akhirnya memutuskan untuk mencari kelapa utuh ke desa-desa di Kabupaten Kediri. Tidak mau rugi, pria asli Tinalan ini pun membeli alat parut kelapa dan menitipkan hasil parutannya ke toko kelontong milik saudara. Sedangkan batoknya dia proses menjadi mangkuk.

“Saya cicil sedikit-sedikit. Sehari saya buat 4-6 batok kelapa. Alhamdulillah akhirnya pesanan terpenuhi,” ujarnya bahagia.

Ada banyak jenis barang yang dibuat Udin. Selain mangkuk, ada piring, garpu, sendok makan, sendok sayur, centong, hingga cangkir. Barang-barang tersebut terbuat dari kayu jenis jati dan sonokeling. Ketika tidak ada pesanan, Udin rutin memproduksi barang-barang kerajinan sesuai stok yang kosong. Ketersediaan stok baginya sangat penting.

“Kalau ada pembeli yang tanya barang ready apa nggak, saya bisa langsung jawab. Tidak nunggu buat dulu karena perlu waktu,” tambahnya.

Memang tidak ada jaminan stok produknya tersebut pasti terjual. Namun Udin percaya barangnya lambat laun akan terjual karena menurutnya respon pasar terhadap perkakas kayu buatannya cukup bagus. “Setiap saya posting di instagram, peluang terjualnya besar. Jadi saya tidak khawatir,” ujar pemilik akun @arteribatok ini.

Samsudin, pemilik usaha arteri batok Rejomulyo, Kota Kediri

Usaha kerajinan kayu ini baru dijalankan Udin sejak tiga tahun yang lalu. Meski baru, Udin tidak kesulitan dalam membuatnya. Pasalnya sebelumnya dia bekerja sebagai tukang kayu. Alat-alat pertukangan pun sebagian masih ada. Makanya ketika adiknya mendapat pesanan gerabah berbahan kayu, Udin langsung menyanggupi untuk memenuhi pesanan.

“Adik saya sebelumnya jualan gerabah. Dapat pesanan 1000 sendok garpu kayu. Nyari di Malang cuma ada 300. Karena uang terlanjur diterima, akhirnya kita nekat buat sendiri,” terangnya.

Sejauh ini Udin telah mengirim barangnya ke berbagai pulau di Indonesia. Untuk harga mangkuk batok ukuran besar dijual Rp 15 ribu. Sedangkan mangkuk kecil dijual Rp 13 ribu. Untuk sendok dan perlengkapan lainnya dijual mulai Rp 5 ribu hingga Rp 25 ribu. “Harga tergantung bentuk dan jenis kayunya,” pungkasnya.

Lokasi : Lingkungan Ngasinan, RT 03/RW 04, Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri.

Instagram : arteribatok

WhatsApp : 0822 8420 8005

Give a Comment