Keripik Pare Kingkres, Tidak Pahit Teskturnya Kres-Kres

Di tangan Dewi Istianah, pare yang pahit berubah menjadi camilan yang nikmat dan menggugah selera. Teksturnya renyah dan rasanya gurih, tidak ada rasa pahit yang tersisa. Rahasianya ternyata ada di proses penggaraman. Tidak hanya itu, pare juga harus direndam dalam air semalaman agar hasilnya lebih optimal.

“Kalau jamur sehari diproses langsung jadi. Kalau pare perlu waktu setidaknya dua sampai tiga hari baru siap jual,” terang Dewi saat ditemui di kediamannya di Jalan Penanggungan gang IV A No. 02 Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Jika tidak hati-hati, proses penggaraman ini bisa berdampak buruk pada pare. Alih-alih menghilangkan rasa pahit, pemberian garam yang salah bisa mempercepat proses pembusukan. Makanya setelah digarami, pare harus dicuci bersih dan jangan sampai ada sisa garam yang tertinggal. “Dulu pernah gagal di proses ini. Sekarang sudah terampil ngolahnya,” tambahnya.

Meski keripik pare belum terlalu umum, Dewi tidak pernah sepi orderan. Sebelum pandemi, Dewi rutin mengolah pare sekitar 60 kg hingga satu kuintal per hari. Akibat wabah corona, penjualan menjadi tersendat. Saat ini Dewi rutin mengolah pare sekitar dua kali seminggu.   

Menurunnya kapasitas produksi ini dikarenakan permintaan dari reseller menurun. Mereka rata-rata menjual pare kripsi bermerek Kingkres ini di tempat wisata, kantin perkantoran, car free day (CFD), dan acara-acara pengajian. Mengingat aktivitas di masyarakat belum sepenuhnya normal, penjualan pun masih belum sebanyak dulu.

“Saat ini toko-toko sudah mulai buka, pariwisata juga sebagian sudah buka. Semoga saja permintaan bisa meningkat lagi,” harap perempuan 42 tahun ini.

Dulu awal memulai usaha keripik pare di tahun 2015, Dewi sempat kesulitan. Banyak orang yang masih ragu dengan rasa keripik pare. Padahal khasiat dari pare sendiri sangat banyak mulai dari obat demam, malaria, liver, hingga antioksidan. Dewi pun berusaha berpromosi dengan menyediakan banyak tester. Dengan begitu, orang bisa langsung merasakannya.

“Setiap pameran harus ngasih-ngasih produk ke calon konsumen. Harus siap biaya lebih saat promosi,” curhatnya.

Sebenarnya keripik pare buatan Dewi sudah cukup menarik dari segi rasa dan kemasan. Banyak calon rekanan dari luar negeri seperti India dan Cina yang tertarik untuk bekerjasama. Namun sampai saat ini rencana ekspor ini masih menggantung. Menurut perkiraan Dewi, kendalanya di kapasitas produksi.

“Mungkin mereka maunya yang sudah bentuk pabrik. Padahal kalau saya, meski usaha rumahan tapi kapasitas produksi 2 ton per bulan juga bisa,” tandasnya.

Keripik pare Kingkres siap jual

Selain berjualan offline, Dewi juga semakin gencar berpromosi di dunia maya. Ibu satu anak ini tanpa ragu membeli properti untuk foto produk agar feed media sosialnya semakin menarik. Meski tidak gampang dan efek penjualannya tidak langsung bisa dirasakan, Dewi tetap konsisten mengunggah konten produk Kingkres.

“Kalau pembelian perorangan sebagian besar belinya eceran. Tapi kalau reseller belinya rutin dus-dusan,” ujarnya.

Dewi menjual produknya dengan dua cara yakni kiloan dan dalam kemasan paper foil. Untuk harga keripik pare rasa original dibanderol Rp 60 ribu per kg, sedangkan yang varian rasa barbeque, pedas, balado, keju hingga ekstra pedas dijual Rp 65 ribu per kg. “Untuk kemasan paper foil dengan berat 90 gram harganya Rp 12 ribu. Yang 250 gram Rp 20 ribu,” katanya. Selain keripik pare, Dewi juga menjual jamur krispi dan keripik usus yang per bungkusnya dijual Rp 12 ribu.

Lokasi : Jalan Penanggungan gang IV-A No. 02 RT 21/RW 4, Bandarkidul, Kota Kediri

Instagram : kingkres_kediri

Facebook : Kingkres Jamur Krispi

WhatsApp : 0821 4364 5899

Give a Comment