Keripik Tempe A-Syifa, Sehari Olah Setengah Kuintal Kedelai

Keripik tempe milik Sri Wahyuni memiliki bentuk bulat pipih dengan diameter sekitar 5 cm. Ukuran ini sangat pas dengan ukuran mulut orang dewasa, sehingga satu keping keripik bisa langsung masuk dalam sekali suap. Tidak ada remahan akibat gigitan. Sekilas tampilan tempenya sedikit berbeda karena Sri menggunakan tepung sagu sebagai bahan dasar tempe. Makanya butiran kedelainya terlihat lebih jarang.

Ketika dimakan, rasa gurih bawang langsung menyapa lidah. Tidak ada rasa pahit di sana. Teksturnya krispi namun tidak keras. Remahan keripik ketika dikunyah tidak sampai melukai rongga mulut. Perpaduan rasa nikmat dan nyaman inilah yang membuat konsumen tidak bisa berhenti ngemil ketika mencoba produk bermerek A-Syifa ini.

“Saat ini kami produksi setiap hari karena permintaan selalu ada,” terang Sri, pemilik usaha keripik tempe A-Syifa.

Tidak hanya Kediri, Sri rutin memasok produk keripik tempe ke berbagai kota sekitar. Mulai dari Surabaya, Mojokerto, Trenggalek, hingga Malang. Padahal daerah-daerah tersebut juga menjadi sentra keripik tempe. Walaupun banyak produk sejenis di sana, produk milik Sri ini tetap bisa bersaing.

“Sebulan sekali saya selalu drop barang baru,” tandasnya.

Produk keripik tempe A-Syifa yang dijual di pusat oleh-oleh.

Usaha keripik tempe A-Syifa ini sudah dijalankan Sri sejak tahun 2014. Sebelumnya orang tuanya juga seorang produsen tempe di Ngawi. Makanya perempuan 47 tahun ini tidak kesulitan dalam membuat tempe. Bahkan menurutnya tempe yang dibuat di Kota Kediri lebih enak daripada daerah asalnya.

“Di sini hasil tempenya lebih bagus. Selain kualitas airnya yang baik, cuacanya juga sejuk jadi tempenya lebih enak,” bebernya.

Meski penjualan di toko-toko cukup bagus, Sri juga mulai merambah pasar online. Bagian ini dijalankan sepenuhnya oleh putra keduanya yakni Deni Ian Rafendi. Tidak hanya aktif mengunggah produk di media sosial saja, dia bahkan melakukan rebranding dan mengganti kemasan agar semakin menarik.

Merek yang digunakan yakni KunyAh in, Tempe Chips. Kemasannya berbentuk standing pouch berbahan aluminium foil dengan cetakan penuh di seluruh permukaan kemasan. Karena biaya kemasannya sendiri mahal, harga produknya pun relatif lebih mahal daripada produk dengan kemasan standar.

“Untuk produk KunyAh ini hanya untuk online. Biasanya yang beli anak-anak muda,” tambah ibu tiga anak ini.

Sri Wahyuni menunjukkan produk keripik tempe sagu andalannya.

Dalam sehari, Sri rutin mengolah 50 kg kedelai segar. Dari tempe tersebut didapatkan 288 bungkus keripik dengan berat 150 gram. Karena produksi cukup banyak, Sri mempekerjakan sembilan pekerja tetap mulai dari kegiatan produksi tempe, pemotongan tempe menjadi keripik, penggorengan keripik, hingga pengemasan.

“Produksi libur di Hari Minggu saja,” katanya.

Selain rasa original, Sri juga menjual keripik tempe rasa pedas. Dulu dia sempat menjual berbagai varian rasa namun peminatnya lebih banyak di varian original. Untuk harga keripik tempe dalam kemasan standar dengan berat 150 gram harganya Rp 8 ribu.  Sedangkan untuk KunyAh in dipatok Rp 10 ribu dengan berat 80 gram.

Lokasi : Jalan Sersan Suharmaji, gang Usman Ali No. 18, Manisrenggo, Kota Kediri

Facebook : Sri Wahyuni Syifa

Instagram : asyifa_keripik_tempe, kunyahin_id

WhatsApp : 0813 5733 0533

Give a Comment