Kirani Craft, Gunakan Tenun Ikat Sebagai Hiasan Sospeso Pada Tas

Belum banyak perajin yang mendalami seni decoupage dan sospeso di Kota Kediri. Peluang ini dimanfaatkan oleh Rori Primadiani untuk masuk pasar barang kerajinan yang semakin ketat setiap harinya. Melihat pesaing yang belum banyak membuat perempuan 42 tahun ini tekun mempelajari seni visual asal Italia ini.

“Saya dulu tahu kerajinan ini dari perajin asal Kabupaten Kediri. Lalu saya coba dalami dengan ikut kursus berbayar,” terang perempuan yang akrab disapa Rori ini.

Awalnya Rori belajar tentang decoupage yakni seni menempelkan kertas tisu bermotif ke suatu media. Konsep kerjanya cukup sederhana yakni dengan memotong kertas tisu sesuai dengan bentuk motif yang ada. Motif yang sudah tergunting rapi ini kemudian ditempelkan ke barang yang akan dihias menggunakan lem. Terakhir tempelan ini kemudian dipernis sehingga menyatu dengan obyek dan tampilannya lebih menarik.

“Untuk seni sospeso saya belajar sendiri karena dasarnya hampir sama dengan decoupage,” tambah pemilik usaha bermerek Kirani Craft ini.

Rori memilih barang-barang fesyen sebagai media decoupage dan sospesonya. Ada tas, dompet atau clutch, dompet koin, dan keranjang hantaran yang terbuat dari anyaman pandan. Ada pula headpiece, bros, hingga sepatu. “Tas-tas pandan saya beli jadi dari perajin di Tasikmalaya. Saya beli bareng komunitas jadi barang lebih aman dan menghemat ongkir,” tambahnya.

Sebelumnya Rori menggunakan perca batik untuk motif sospesonya. Namun saat ini dia mencoba berinovasi dengan menggunakan potongan kain tenun ikat Bandarkidul. Dengan begitu diharapkan produknya menjadi lebih unik dan membawa ciri khas daerah asal. Masukan ini didapatkannya saat mengikuti kegiatan kurasi di Pemkot Kediri.

“Masalahnya kain tenun ini kalau dipotong bisa ambyar tidak seperti kain biasa. Masih saya coba carikan solusinya,” tandasnya.

Untuk harga tas, Rori menjualnya di kisaran harga Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Harga ini berlaku untuk reseller. Di konsumen harga tas bisa sampai Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu. Bahkan ketika “dibawa” kenalannya ke Australia, harga tas bisa sampai Rp 2,5 juta per unit. Rori sendiri tidak ada masalah dengan itu.

“Saya tidak ada keinginan untuk menaikkan harga di reseller agar mereka juga bisa dapat untung dari menjualkan produk saya,” tambahnya.

Salah satu produk clutch dengan seni suspeso buatan Kirani Craft

Untuk harga aksesoris cukup variatif. Dari yang termurah Rp 10 ribu untuk bros, hingga Rp 150 ribu untuk headpiece. Tidak jarang barang buatan Rori dijual kembali di toko-toko aksesoris besar dengan harga lebih mahal 10 kali lipat hanya dengan mengganti kemasannya.

Rori percaya barangnya memang layak jual di tempat mahal, namun untuk saat ini dia ingin fokus memproduksi barang secara rutin dulu daripada memikirkan kemasan dan pemasaran. “Untuk pemasaran termasuk peluang ekspor ke luar negeri saya serahkan saja pada reseller atau bersama-sama dengan rekan komunitas. Kalau saya pribadi ingin fokus saja di produksi,” bebernya.

Sebelum pandemi, Rori rutin membuat stok barang karena dia juga menitipkan produknya ke salah satu toko di Jalan Dhoho. Namun akibat wabah, penjualan menjadi menurun, dan barang sering sisa. Daripada rusak, Rori mengambil kembali produknya untuk dijual secara mandiri melalui online.

“Saat sedang lesu seperti ini, saya produksi ketika ada pesanan saja,” bebernya.

Selain instagram, Rori juga menjual barangnya di marketplace yakni Tokopedia dan Grabmart. Dengan begitu diharapkan tetap ada pesanan masuk meski konsumen tidak bertemu langsung dengannya. “Dulu sering ikut pemeran bisa terjual 10 sampai 15 tas. Semoga saja kondisi ke depannya semakin baik dari sekarang,” pungkasnya.

Lokasi : Perum Candra Kirana F1, Kelurahan Bandarlor, Kota Kediri.

Instagram : roriprima_diani dan kiranicraft.kediri

Facebook : Rori Primadiani

WhatsApp : 0812 3534 8589

Give a Comment