Kodok Ngorek 1, Sarung Tenunnya Kini Banjiri Pasar Luar Negeri

Hampir setiap pelaku usaha tenun memiliki ciri khas dan keunggulan masing-masing. Begitu juga dengan Ifa Quri’ah, pemilik usaha tenun “Kodok Ngorek 1”. Perajin tenun yang bermukim di Kampung Tenun Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini memilih spesialisasi sarung goyor. Bahkan kini produknya secara kontinu memenuhi kebutuhan ekspor.

“Setiap bulan kirim ke Somalia. Tapi ya pastinya lewat perantara. Oleh mereka dijual kembali menggunakan merek mereka,” terang  perempuan yang akrab disapa Sifa ini.

Sebenarnya pihak perantara meminta Sifa memasok sarung tenun sebanyak-banyaknya. Hanya saja proses pembuatan kain tenun perlu usaha lebih, tidak seperti pabrikan yang bisa memproduksi banyak dalam jangka waktu yang pendek. Makanya Sifa memutuskan untuk mengirimkan 200 potong sarung saja setiap bulannya.

“Saya sesuaikan dengan kapasitas produksi di sini. Dan lagi, masih ada pasar lokal yang tetap harus dipenuhi,” tambahnya saat ditemui di rumahnya.

Tidak hanya sarung, Sifa juga tetap memproduksi tenun dalam bentuk kain. Jenis ini untuk mengakomodasi pesanan yang masuk dari masyarakat lokal. Jadi konsumen tetap bisa berbelanja meski butuhnya bukan sarung. “Setiap minggunya kita produksi sarung 50 potong, kain hanya 10 potong,” bebernya.

Ifa, pemilik Kodok Ngorek 1, sedang melepas ikatan pada benang usai proses pewarnaan

Untuk mengejar target produksi, Sifa mempekerjakan sekitar 35 pekerja. 14 diantaranya adalah pekerja tetap yang memiliki tugas “oncek”, pemintal, dan pewarnaan. Sedangkan sisanya adalah pekerja lepas yang didominasi ibu-ibu. Selama pandemi, hampir semua tetap aktif bekerja karena sudah ada pesanan yang konsisten dari pasar luar negeri. Makanya Sifa merasa tidak terlalu terkendala meski sedang pandemi.

“Yang kain kemarin sempat berhenti juga sih karena pasar lokal sepi. Tapi untuk sarung jalan terus,” ungkap perempuan yang berusia 35 tahun ini.

Kegiatan ekspor ini sudah berjalan sekitar tiga tahunan. Hanya saja perantaranya berbeda-beda. Untuk bisa menembus pasar luar negeri, Sifa tidak pernah mencari peluangnya secara langsung. Para makelar ini menemui langsung tempat produksi Sifa karena tertarik dengan sarung tenun “Kodok Ngorek 1” yang mereka temui di toko-toko sekitar.

Bagi Sifa, tidak ada kendala dalam pemasaran. Justru yang sulit baginya adalah menemukan pekerja yang memiliki kemampuan membuat sarung tenun. Pasalnya teknik membuat sarung jauh lebih sulit daripada membuat kain tenun biasa. “Pekerja ada banyak, tapi tidak banyak yang bisa membuat sarung tenun dengan baik,” ujarnya.

Diketahui motif pada sarung tidaklah sama dengan kain. Ada bagian “tumpal” yakni kepala kain yang biasa ada di bagian tengah sarung. Arah motifnya tegak lurus dengan motif sekitarnya. Jadi ada rumus tersendiri agar sarung dapat disambung tanpa merusak motif secara keseluruhan. “Jika itungannya meleset dikit, hasilnya bisa jelek dan tidak layak jual,” tandasnya.

Untuk produk sarung goyor, Sifa menggunakan sisir benang 52 dan 60 dengan banderol harga Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu. Tergantung jenis benang dan ukurannya. Sedangkan untuk kain menggunakan sisir 80 dengan kisaran harga Rp 180 ribu per potong.

Lokasi : Jalan KH. Agus Salim gang VII/51 B, Bandarkidul, Kota Kediri

WhatsApp : 0877 5919 6168

Give a Comment