Kopi Pandawa Kediri, Dari “Demo Seduh” Sampai Buka Kedai

Tren minum kopi semakin menanjak beberapa tahun terakhir. Namun ternyata tidak mudah menjalankan bisnis minuman berkafein ini. Suwarjito sebagai salah satu produsen kopi di Kota Kediri berusaha melakukan berbagai inovasi dalam menjalankan usaha yang sudah dirintisnya sejak belasan tahun yang lalu.

“Baru beberapa bulan ini buka kedai kopi. Kalau produksi kopi sejak 2004 lalu,” terang Jito, pemilik Kopi Pandawa.

Kedainya sederhana namun nyaman. Lokasinya cukup strategis yakni di pinggir Jalan Raya Betet-Bawang No. 64, Kota Kediri. Meski secara dekorasi tidak semewah kafe lainnya, Kedai Kopi Tradisional Pandawa cukup diminati. Jito tidak menjalankan kedainya ini sendirian. Dia menggandeng beberapa anak muda untuk mengurus operasional kedai.

Saat ini ada setidaknya 4 karyawan yang bekerja di kedainya. Tidak hanya melayani pengunjung saja, mereka juga dijadikan magnet agar tingkat kunjungan stabil yakni dengan memanfaatkan komunitas dan lingkaran pertemanan. Selama tiga bulan terakhir, Kedai Pandawa tidak pernah sepi terutama ketika sore dan malam hari.

“Saya cuma menyediakan bangunan dan memasok kopinya. Operasional mereka urus sepenuhnya. Nanti di akhir bulan, sistemnya bagi hasil,” tandas pria yang berusia 56 tahun ini.

Kafe Pandawa yang sederhana namun nyaman

Taktik Jito ternyata cukup efektif dalam mendongkrak penjualan produk kopinya. Pasalnya pria asli Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren ini mengaku cukup sulit untuk bertahan di bisnis kopi apalagi selama pandemi. Banyak warung-warung kopi yang bekerjasama dengannya harus tutup total selama berbulan-bulan.

“Sebelumnya sempat mandek. Baru beberapa bulan ini permintaan mulai normal lagi,” ujarnya.

Di awal usaha, Jito fokus berjualan di Tulungagung karena prospeknya cukup bagus. Di sana, Jito menyasar warung-warung kopi dan rumah makan. Tidak langsung laku, Jito harus mengenalkan produknya dengan melakukan demo menyeduh kopi langsung di depan pengunjung warung. Mereka diminta untuk mencicipi langsung kopi merek Pandawa tersebut.

“Kalau tidak begitu, pihak warung tidak mau menerima barang kita karena pengunjungnya belum tentu suka. Setelah tahu rasanya, baru mau dititipi,” ungkapnya.

Suwarjito bersama mesin giling kopi di tempat produksinya di Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri

Setelah berjalan lama, bukan berarti usaha Jito mulus-mulus saja. Kali ini saingannya adalah kopi-kopi pabrikan yang gencar memasang iklan dan produknya membanjiri pasar dengan harga yang sangat murah. Padahal secara kualitas, Kopi Pandawa lebih baik karena menggunakan gula murni dan tidak menyebabkan sakit tenggorokan.

“Kalau saya bahannya baru semua. Gulanya murni bukan pemanis buatan,” ujar Jito berpromosi.

Kini Jito secara konsisten memproduksi sebanyak 2 kwintal kopi mentah setiap bulannya. Dari bahan baku tersebut bisa terbentuk 150 kg bubuk kopi yang siap dikemas dan dipasarkan. Semua kegiatan produksi dilakukan di kediamannya di Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren. Saat ini ada satu pegawai tetap. Sebagian kegiatan produksi dilakukan oleh Jito sendiri untuk menekan biaya produksi.

“Sasaran langsung ke warung-warung kopi. Kalau ke toko perputaran uangnya lama,” bebernya.

Kopi yang dibuatnya adalah campuran robusta dan arabica. Jito sendiri yang meramu kopinya dengan proporsi takaran tertentu. Citarasa inilah yang dijadikan Jito untuk menjaga loyalitas pelanggannya. Kopi Pandawa dengan kemasan 250 gram dibanderol harga Rp 80 ribu. Kopi ini tahan simpan sampai 1 tahun karena diproses dengan baik.

Lokasi kafe Pandawa : Jalan Raya Betet-Bawang No 64, Kota Kediri.

Give a Comment