Kreasi Hyuka, Rezeki dari Boneka Rajut ala Jepang

Merajut menjadi hobi Anggi Permatasari (25 tahun). Profesi utamanya mengajar, saat senggang ia mengerjakan boneka rajut (amigurumi). Boneka-boneka itu dari ukuran kecil untuk gantungan kunci hingga besar. Membuat kerajinan rajut memang membutuhkan ketekunan dan tentu saja passion. Inovasi bentuk dan kerapian menjadi kunci untuk memenangkan daya saing.

Tahun 2014, Anggi mulai merajut. Ia menghasilkan berbagai bentuk rajutan, mulai tas, dompet, dan boneka. Tak hanya rajutan, juga sulam pita.

“Ayah saya juga suka kristik. Mungkin itu nurun ke saya,” kata Anggi soal hobinya membuat kerajinan yang membutuhkan ketekunan. Sampai kemudian, ia memutuskan untuk fokus pada boneka rajut atau amigurumi.

Anggi Permatasari, pemilik merek Kreasi Hyuka
Foto: Mall UMKM/Adhi Kusumo

“Alasannya, lebih enjoy mengerjakannya,” katanya.

Boneka-boneka itu berbagai ukuran. Ada yang kecil untuk gantungan kunci, ada yang ukuran sedang dengan tinggi kira-kira 30cm. Bentuknya pun beragam, mulai boneka beruang, tokoh film animasi, dan bentuk-bentuk tumbuhan.

Harga jualnya, untuk ukuran kecil (gantungan kunci) mulai dari Rp 35.000,- hingga Rp 50.000,-/piece. Sedangkan untuk ukuran besar di atas Rp 150.000,-. Ia juga melayani pesanan, boneka pesanan khusus dengan harga Rp 200.000,- ke atas.

“Dalam sehari, untuk boneka kecil bisa bikin 4 buah,” kata Anggi. Untuk boneka besar, penyelesaiannya lebih lama.

Sejauh ini, pemasarannya melalui media sosial dan marketplace. Dari pemasaran daring ini, boneka Anggi sudah mencapai beberapa pulau di Indonesia termasuk Kalimantan dan Papua.

Memang banyak produk serupa, namun Anggi optimis produknya tetap punya pelanggan. Ia mengutamakan kerapian dan kreativitas dengan beragam bentuk. Baik pola-pola yang sudah ada, juga berkreasi dengan bikin pola baru.

Kreasi Hyuka
IG: @kreasi_hyuka

Give a Comment