Kualitas Air Jadi Kunci Kesegaran Tahu Bintang Barokah

Tahu adalah kuliner yang paling digemari di Kota Kediri. Makanya kota ini diberi julukan Kota Tahu. Salah satu tahu yang ikut mewarnai pasar lokal adalah tahu Bintang Barokah. Lokasinya ada di sentra Kampung Tahu Tinalan, Kecamatan Pesantren.

Seperti namanya, tahu Bintang Barokah terus bersinar sampai saat ini. Padahal usaha yang dijalankan oleh pasangan Mudjiono dan Dwi Narni ini sudah berdiri sejak tahun 1989 silam. Meski sudah memiliki nama besar, Narni tetap menjaga kualitas tahunya agar pelanggan tetap loyal dan tidak beralih ke merek lain.

“Kuncinya ada di air. Harus sering diganti agar tahu tidak mudah basi,” katanya.

Meski menjadi produsen besar, nyatanya usaha Narni ikut terseok-seok saat pandemi. Bahkan menurutnya tahun ini dampaknya lebih buruk daripada saat industri tahu diterpa isu miring soal tahu berformalin di tahun 2001 silam.

“Dulu memang terdampak tapi tidak separah ini,” ungkapnya.

Anjloknya permintaan sangat dirasakan saat Idul Fitri. Jika biasanya Narni bisa menghabiskan lima ribu biji tahu dalam sehari, saat lebaran tahun ini dia sampai kesusahan meski hanya menjual 200 biji tahu saja. Hal ini jelas cukup membuatnya terpuruk. Meski demikian perempuan 54 tahun ini tidak sampai meliburkan para pekerjanya.

“Pekerja tetap produksi setiap hari, hanya saja jumlahnya jauh lebih sedikit,” tambahnya.

Pekerja sedang sibuk melakukan kegiatan produksi tahu Bintang Barokah

Permintaan mulai normal kembali saat pemerintah mulai merealisasikan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kediri. Dari program dari pemerintah pusat tersebut, Narni akhirnya mendapat pesanan tahu lagi untuk dibagikan ke warga penerima bantuan.

“Kalau pas bareng-bareng, permintaan sampai 1700 biji per hari,” ujarnya.

Selama masa new normal, permintaan mulai meningkat kembali. Pasalnya warung-warung dan rumah makan kembali beroperasi. Acara hajatan dan kumpul-kumpul juga mulai ada lagi dengan menerapkan protokol kesehatan. Sehingga lambat laun permintaan tahu Bintang Barokah pun semakin bertambah.

“Sekarang per hari bisa menjual sekitar 1300 biji tahu,” ungkap ibu dua anak ini.

Bintang Barokah sendiri menjual dua jenis tahu yakni tahu putih dan tahu kuning. Narni dan Mudjiono setiap hari menjualnya di Pasar Setonobetek. Selain itu biasanya ada pemesan yang datang ke rumahnya untuk membeli tahu. Tahu putih harganya Rp 700 sampai Rp 1.500 per biji. Sedangkan tahu kuning dijual Rp 1.600 per biji.

Mudjiono, Pemilik usaha tahu Bintang Barokah memperlihatkan tahu kuning buatannya di Kelurahan Tinalan.

Menurut Narni, dulu dia pernah ingin mengembangkan pasar dengan mengirim tahu kuning ke Surabaya dan Madura. Tapi karena proses pencairan dananya sangat susah, kini upaya tersebut tidak dilanjutkan lagi. “Proses kirimnya sih sangat mudah. Tapi uangnya lama, jadi saat ini fokus di pasar lokal saja,” tandasnya.

Tidak hanya tahu segar, Narni juga mengembangkan usahanya dengan memproduksi stik tahu. Rasanya tidak kalah mantap dan harganya relatif murah. Untuk satu bungkus stik tahu hanya dipatok harga Rp 8 ribu saja. “Banyak orang yang cari stik tahu buat oleh-oleh. Jadi saya buatkan agar konsumen tidak pulang dengan tangan hampa,” pungkasnya.

Lokasi : Jalan Tinalan Timur gang IV, No 27, Kota Kediri

Instagram : bintangbarokah_kdr

WhatsApp : 0852 3087 7848

Give a Comment