M. Anis Safawi, Cari Inspirasi Dari Tren Baju Pejabat di Televisi

Tenun Ikat Kurniawan sudah berdiri sejak puluhan tahun. Kini usaha tersebut dikelola oleh M. Anis Safawi, generasi ketiga di keluarganya. Tidak sendirian, Anis dibantu 30 orang pekerja dalam memproduksi tenun ikat setiap harinya. Satu diantaranya merupakan pekerja disabilitas. “Ada satu yang tuna rungu,” jelas Anis saat ditemui di kediamannya.

Menurut Anis, dulu tempat usahanya kedatangan siswa-siswa dari SMALB Putra Asih, Balowerti. Di sana mereka belajar menenun dan melakukan pelatihan selama beberapa hari. Dari kegiatan magang tersebut, didapatkan lima anak yang menyatakan mau bergabung untuk bekerja di Tenun Ikat Kurniawan. Tapi setahun kemudian, tiga pekerja memutuskan untuk lanjut kuliah. Satu orang memutuskan untuk berhenti bekerja, dan tinggal satu orang yang bertahan.

Anis mengaku tidak kesulitan meski mempekerjakan orang berkebutuhan khusus. Memang di awal bergabung, Anis harus mengajari dari awal dan sering-sering mengecek hasil pekerjaannya. Meski demikian pekerjanya tersebut cukup cekatan dan mudah memahami apa yang sudah diajarkan.

“Dia sudah ahli dalam menenun. Hasilnya sama bagusnya dengan yang normal,” ujarnya.

Ketika memberi instruksi yang panjang dan detail, Anis biasanya menyampaikannya secara tertulis melalui secarik kertas yang kemudian ditempelkan di alat tenun yang digunakannya. Atau kadang melalui pesan teks di ponsel. Namun untuk instruksi yang sederhana, Anis menyampaikannya secara langsung.

“Dulu saya diajari bahasa isyarat oleh pendampingnya, tapi saya lupa semua. Jadi komunikasi kadang lewat tulisan atau ngomong langsung. Dia bisa membaca gerak bibir kok,” katanya.

Anis mengoperasikan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang ada di rumahnya.

Anis sendiri baru memegang usaha Tenun Kurniawan secara resmi pada tahun 2015. Meski demikian, pria 35 tahun ini sudah ahli di dunia tenun karena sudah belajar menenun sejak SMP. Ketika pesanan sedang banyak, Anis turun langsung membantu proses produksi yakni menggambar motif, dan melakukan pewarnaan.

“Kalau pesanan banyak, saya rekrut lebih banyak pekerja jadi tidak pernah keteteran,” ungkapnya.

Meski saat ini ada banyak pengusaha tenun, Anis yakin usahanya tetap bisa berkembang, Pasalnya setiap pelaku usaha pasti memiliki ciri khas masing-masing, termasuk dirinya. Selain menjaga kualitas, Anis tidak pernah bosan berinovasi terutama dalam hal motif dan tren warna agar konsumen tetap loyal terhadap produknya.

“Biasanya saya lihatin itu baju-baju pejabatnya pas ada acara kenegaraan atau press rilis. Bisa dijadikan inspirasi motif atau warna-warna baru,” jelasnya sambil tertawa.

Dimana-mana, persaingan usaha pasti selalu ada. Namun di komunitas Kampung Tenun Bandarkidul, persaingan ini tidaklah kaku. Para perajinnya masih saling membantu. Termasuk dalam hal penggunaan motif dan warna, tidak ada eksklusifitas di sana.

“Motif-motif seperti telur ceplok, tirta, dan lain-lain itu kan sudah umum. Mau divariasi dan dicontek perajin lain tidak ada masalah,” jelasnya.

Kini Anis memiliki 20 Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Sehari tempatnya bisa memproduksi 15 potong kain. Selain itu, dia juga membuat syal dan sarung goyor. Hasilnya dibawa oleh para reseller yang tersebar di Kota Kediri.

Sesekali dia mengirimkan pesanan perorangan ke sekitar Jakarta, Bandung, hingga Sulawesi. Untuk harganya sesuai standar kampung tenun. Kain tenun dijual Rp 175 ribu, sarung goyor Rp 210 ribu sampai Rp 250 ribu tergantung benang dan ukuran.

Lokasi : Jalan Agus Salim gang IX/50, Bandarkidul, Mojoroto, Kota Kediri.

Instagram : tenunikatkediri

Facebook : Tenun Ikat Kurniawan

WhatsApp : 0812 3407 874

Give a Comment