Madumongso Bu Widji Mak Glender, Manisnya Pas Teksturnya Lumer

Cuaca panas tidak menghalangi Suwarmiasih berproduksi madumongso. Perempuan 63 tahun ini tampak sibuk mengaduk ketan hitam di atas tungku perapian sederhana di bagian tengah rumahnya yang terbuka. Tidak ada atap yang menaunginya, hanya sebuah payung besar yang melindunginya dari terik sinar matahari.

“Kalau pakai tungku rasanya lebih sedap daripada kalau digongso pakai kompor LPG,” terang perempuan yang akrab disapa Bu Widji ini.

Untuk mendapatkan tekstur yang lembut dan “mak glender”, Bu Widji harus menggoreng ketan hitam selama empat jam. Untuk stok, dia memproduksi 50 kg madumongso dan bisa habis dalam jangka waku sebulan.

Ketika lebaran permintaannya lebih banyak lagi yakni mencapai lebih dari 2 kuintal madumongso. Untuk memenuhi pesanan, Bu Widji harus melakukan proses pembuatan hingga empat gelombang setiap harinya. “Sekali menggoreng perlu waktu empat jam. Empat kali sehari brarti perlu waktu 16 jam. Itu dilakukan setiap hari ketika puasa karena permintaan banyak,” tambahnya.

Selama wabah corona, memang permintaan menurun. Namun menurut Bu Widji produknya masih cukup diburu pembeli. Pasalnya produk madumongso yang bermerek Bu Widji ini memiliki tekstur yang lembut dan memanjakan lidah. Rasa manisnya pun pas dan ada sensasi gurih gula kelapa.

“Teknik pembuatannya bisa jadi sama dengan orang kebanyakan, tapi Saya gunakan bahan pilihan mulai dari ketan hitamnya hingga gula kelapa. Tidak sembarang bahan baku yang dipakai,” bebernya.

Bu Widji menggoreng madumongsonya sendiri menggunakan tungku.

Madumongso Bu Widji ini baru dijual secara komersil sejak lima tahun yang lalu. Sebelumnya mantan ibu lurah Ngadirejo ini sudah aktif membuat madumongso sejak era 70-an. Hanya saja saat itu dia membuatnya khusus untuk santapan keluarga.

Sesekali anak keduanya yang bernama Erlisa Aduhai membawanya saat aktif di kegiatan luar sekolah. “Pas saya bawa, dicoba sama teman-teman Chinese. Ternyata mereka suka,” tambah Erlisa.

Banyaknya respon positif yang didapatkan dari orang-orang sekitar, Bu Widji dan Erlisa pun mencoba membuat madumongso untuk dijual ke luar. Di awal percobaan, mereka menitipkan produk di salah satu rumah makan. Ternyata produknya laris.

Madumongso Bu Widji pun semakin dikenal dan pesanan datang rutin setiap minggunya. “Saat ini kami hanya menitipkan produk di galeri UMKM Provinsi Jatim di Surabaya. Sisanya kami stok di rumah untuk dijual online,” urai perempuan 42 tahun ini.

Erlisa sangat aktif memposting produknya di media sosial. Mulai dari Instagram, Facebook, hingga WhatsApp. Beberapa konsumen meminta barang dikirim, sebagian yang lain memilih datang langsung ke tempat produksi. Biasanya madumongsonya dijadikan oleh-oleh. Ada yang dikirim ke Kalimantan, Bali, hingga Sulawesi. Ada juga yang sampai dibawa ke Hongkong dan Jerman.

“Desainer terkenal juga sempat pesan untuk dibawa ke Jakarta,” katanya.

Madumongso Bu Widji dikemas dengan cantik untuk menarik pembeli.

Madumongso sebenarnya merupakan jajanan zaman dulu. Agar tetap kekinian, Erlisa melakukan inovasi produk dan pengemasan. “Baru-baru ini kita kombinasikan madumongso sebagai isian cokelat untuk menggaet konsumen baru,” jelasnya.

Untuk harga madumongso dalam kemasan mini pouch dijual Rp 15 ribu. Sedangkan kemasan mika isi 30 dijual Rp 50 ribu. Dan yang terbesar yakni kemasan mika isi 60 dengan berat 1 kg dijual Rp 100 ribu. Produk tahan sampai 6 bulan.

Selain madumongso, ada produk lainnya yakni cookies blueband, almond dan cokelat kopi yang dijual Rp 25 ribu hingga Rp 50 ribu. Ada pula lauk pauk “Lawuhe Bu Widji” dengan varian ikan jambrong, bulu ayam, dan teri kacang yang masing-masing dijual Rp 20 ribu.

Lokasi : Jalan Sentono No. 42, Kelurahan Ngadirejo, Kota Kediri

Instagram : madumongsobuwidji

Facebook : Madumongso Bu Widji

WhatsApp : 0813 3119 4772

Give a Comment