Makrobat, Makan Makaroni Sambil Tobat

“Tobatnya karena kepedasan,” terang Rayzha Rafikasari, pemilik usaha makaroni pedas merek Makrobat.

Nama Makrobat merupakan hasil pemikiran Fika yang cukup panjang. Dia ingin produknya memiliki nama yang unik sehingga mudah diingat konsumen. Makanya dia sangat senang akhirnya bisa menemukan nama unik dan nyambung dengan produknya ini. “Saya cocok-cocokin aja kata-katanya. Ternyata jadinya bagus,” terang Fika sambil tertawa.

Meski camilannya ditujukan untuk para penyuka makanan pedas, Fika tetap mengakomodasi selera konsumen yang tidak suka pedas. Makanya dia menyediakan produk dengan tingkat kepedasan yang berbeda. Levelnya dimulai dari nol yang berarti tidak pedas sama sekali, dilanjut level satu, dua dan level tiga dengan tingkat kepedasan maksimal.

Untuk menghindari kebosanan, Fika menyediakan beberapa pilihan rasa yakni pedas asin, jagung bakar, ayam bawang, keju, BBQ, dan balado. Masing-masing varian ini memiliki level kepedasan yang berbeda sesuai dengan standar yang sudah ditentukan. “Misalkan untuk rasa jagung bakar ada yang tidak pedas dan ada yang pedas sekali. Begitu juga dengan rasa balado, BBQ dan rasa-rasa lainnya bisa dipilih level pedasnya,” bebernya.

Sebenarnya Fika baru membuka usaha Makrobat ini setahun yang lalu. Dia memutuskan untuk berwirausaha setelah dia dan suaminya memutuskan untuk pulang kampung setelah lama merantau di Tangerang. Setelah menetap di Kota Kediri, perempuan 27 tahun ini pun mencari inspirasi produk apa yang cocok untuk dicoba.

“Saya coba makaroni saja karena saya suka ngemil. Makaroni itu enak tapi susah untuk mendapatkan yang kualitasnya bagus,” tambah ibu satu anak ini.

Makrobat menggunakan makaroni kualitas premium dengan tekstur renyah dan tidak alot

Fika pun memberanikan diri untuk memproduksi makaroni pedas kualitas premium namun harganya terjangkau. Dia pun mencari pemasok makaroni mentah sampai ke Solo. Kemasannya pun dibuat istimewa dengan desain yang menarik, unik, dan kekinian. Meski tidak lepas dari MSG, Fika berusaha untuk meminimalisir kadarnya dan tidak menggunakan pengawet dan pewarna makanan.

“Dulu saya kulakan ke Solo karena kualitasnya terkenal bagus. Tapi setelah saya cari info ternyata ada pengecernya di Kediri jadi sekarang kulakan di Kediri saja,” tandasnya.

Sebelum wabah corona, Fika selalu mendapat pesanan dari media sosial dan marketplace sehingga dia berani untuk produksi setiap hari dan menyimpan stok produk. Namun sejak pandemi, omsetnya turun drastis. Makanya kini proses pembuatan Makrobat berdasarkan pesanan saja.

Karena penjualan online sepi, Fika juga mulai merambah ke penjualan offline yakni dengan menitipkan produknya ke swalayan seperti Mekar Swalayan, Golden Swalayan, hingga kafe-kafe. “Alhamdulillah walaupun saya masih baru, mereka mau menerima produk saya,” ungkapnya bersyukur.

Meski bahan baku premium dan kemasan cukup eksklusif, Fika tetap menjual produknya dengan harga terjangkau. Harga reseller dia jual Rp 8 ribu per kemasan 100 gram. Untuk harga konsumen hanya dipatok Rp 10 ribu per kemasan. Dia juga menjual makaroni basah dan mie lidi dengan varian rasa yang sama.

Lokasi : Jalan Perintis Kemerdekaan, No 218, Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri.

Shopee dan tokopedia : makrobat

Instagram : makrobat.id

Facebook : makrobat fanspage.

WhatsApp : 0857 3688 3036

Give a Comment