Mengangkat Derajat Barang Fesyen Dengan Sulam Pita “Phitakoe”

Bagi seorang pedagang, lokasi berjualan yang strategis menjadi hal yang sangat penting. Namun hal ini tidak berlaku bagi Indah Dwi Wahyuni. Meski rumah dan tempat usahanya berada di dalam gang sempit, perajin sulam pita ini tidak berat hati dalam menjalani bisnisnya. Bahkan tanpa ragu, Indah menjalankan beberapa bisnis sekaligus.

“Selain sulam pita, saya juga jualan makanan,” terang Indah ketika ditemui di kediamannya yang asri.

Rumah Indah relatif sulit diakses meski berada di pusat kota. Lokasinya berada di Gang Carik Kelurahan Banjaran, Kota Kediri. Untuk sampai ke sana, masyarakat harus masuk ke dalam gang selebar satu meter. Kendaraan roda dua yang ingin keluar dan masuk gang harus melintas bergantian karena jalan yang terlalu sempit.

Jelas hal ini membuat usaha Indah tidak banyak dikenal orang. Namun jangan salah sangka. Sebelum pandemi, permintaan terhadap produk bermerek “phitakoe” milik Indah hampir selalu ada. Rupanya Indah secara aktif melakukan penjualan secara online. Setidaknya ada tiga platform yang digunakan untuk berjualan yakni facebook dengan akun Indah Dwi Wahyuni, instagram di @phitakoehomecraft, dan juga pesan WhatsApp.

“Selama ini pesanan banyak yang melalui online. Kalau yang offline paling saat ikut pameran” tambahnya.

Usaha sulam pita milik Indah sebenarnya belum lama berjalan. Dia baru memulainya sekitar tahun 2019 lalu. Namun sejak memulai usahanya, Indah tidak terlalu kesulitan. Pasalnya Indah cukup familiar dengan hal-hal di bidang tata busana karena pernah mempelajarinya saat sekolah. Makanya ketika belajar sulam pita dari pelatihan yang diselenggarakan Dinas Koperasi dan UMKM, Indah bisa langsung mengikutinya dan memproduksinya secara mandiri.

Indah sedang menyulam menggunakan pita membentuk motif bunga mawar mini

“Sebelum menjalankan usaha ini (sulam pita, red) sudah sering bikin-bikin yang seperti ini. Hanya saja tidak saya jual karena sekedar hobi,” bebernya.

Setelah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Kediri, Indah semakin bersemangat untuk membuka usaha sulam pita. Apalagi ketika diajak mengikuti pameran-pameran. Ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri saat tahu hasil karyanya disukai dan dibeli orang. Sejak saat itu, Indah pun mulai serius menekuni bisnis sulam pita.

“Yang semula coba-coba, saya akhirnya berani produksi banyak. Beli alat-bahannya termasuk barang-barang penunjangnya,” ungkapnya.

Tas jinjing unik dengan hiasan sulam pita “Phitakoe”

Ada banyak varian barang yang menjadi media sulam pita Indah. Mulai dari totebag yang kekinian, tas jinjing dari anyaman pandan yang unik, hiasan dinding, hingga kebaya. Biasanya barang-barang tersebut dipesan secara perorangan. Makanya motifnya pun berbeda-beda sesuai dengan keinginan pembeli maupun stok yang ada. Sedangkan untuk pesanan partai besar, Indah pernah mendapat pesanan kerudung.

Penetapan harga setiap barang bervariasi. Tergantung barangnya apa, kualitas barangnya dan tingkat kerumitan pola sulam pitanya. “Yang jelas harga barang yang sudah bersulam pita menjadi dua hingga tiga kali lipat dari harga barang itu sendiri. Misal harga tas yang sudah bersulam Rp 120 ribu, maka harga tas polosannya sekitar Rp 40 ribu,” jelasnya.

Selama pandemi ini jelas pesanan sulam pita ikut anjlok. Meski demikian Indah tetap tidak kehilangan akal. Untuk mengisi kekosongan pemasukan, dia lebih gencar memasarkan produk makanan olahan bothok telur asin khas Kediri.

Lokasi : Gang Carik No. 65B, Kelurahan Banjaran, Kota Kediri.

WhatsApp : 081231835388

Give a Comment