Misya Handmade, Produk Sepatu Bayinya Paling Diminati

“Pernah produk rajut saya laku sampai Rp 800 ribuan dalam sehari,” terang Mimin Apriliani, pemilik usaha rajut Misya Handmade.

Memang pendapatan sebanyak itu tidak selalu didapatkan. Biasanya dagangan Mimin laku keras ketika ikut Car Free Day (CFD). Makanya dia cukup terdampak dengan adanya wabah corona yang membuat kegiatan kerumunan dilarang. Padahal lewat kegiatan-kegiatanyang demikian, dia bisa menjajakan produknya.

“Sebenarnya saya ada media sosial juga, tapi nggak telaten buat mantau terus-terusan,” tambah ibu dua anak ini.

Meski sempat sepi, Mimin mulai mendapatkan pesanan lagi beberapa bulan terakhir. Mereka adalah para langganannya saat berjualan di CFD Simpang Lima Gumul. Karena sudah lama tidak digelar, mereka memesan melalui pesan whatsapp. Dari sekian banyak barang rajut, para konsumen loyal ini lebih menyukai perlengkapan bayi.

“Biasanya yang paling banyak dicari sepatu bayi,” urai perempuan 31 tahun ini.

Seperti saat ini. Mimin sedang sibuk merajut kupluk bayi berwarna putih gading. Rencananya penutup kepala unik tersebut hendak dijadikan properti studio foto bayi milik tetangganya. Seiring dengan semakin hitsnya jasa newborn photography, permintaan terhadap perintilan lucu, handmade dan eksklusif ini juga mulai mengalami tren yang positif.

“Kalau pas dagangan lagi ramai, saya jadi semangat buat mengembangkan usaha rajut saya,” ujar Mimin saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Tinalan, Kota Kediri.

Mimin Apriliani, pemilik usaha Misyah Handmade sedang menunjukkan produk tas rajutannya.

Sebenarnya usaha Mimin sendiri belum lama berjalan. Dia baru mulai dari nol sejak dua tahun yang lalu. Mulanya dia iseng ikut pelatihan-pelatihan merajut yang diselenggarakan pemerintah. Setelah bisa, Mimin pun semakin giat membuat berbagai jenis barang fesyen. Mulai dari kantung ponsel, tas, sepatu bayi, hingga sepatu dan sandal dewasa.

Setelah mendalami keterampilan rajut, ternyata hasil rajutan Mimin cukup banyak. Dia pun mencoba memberanikan diri untuk menjualnya di CFD. “Nggak sadar tiba-tiba hasil rajutan saya sampai dua tas kresek merah besar. Saya jual ternyata laku juga,” ujarnya senang.

Memang dagangannya tidak selalu ramai. Ketika pas apes, tidak ada orang yang melirik dagangannya. Meski demikian, Mimin tidak patah semangat karena menurutnya semua orang yang berjualan pasti pernah merasakan dagangan sepi. “Biasanya kalau sedang ada event di sekitar area CFD, penjualan malah sedikit padahal banyak orang lalu lalang. Semua pedagang sampai niteni karena sering seperti itu,” tandasnya.

Tidak hanya menyetok barang untuk CFD, Mimin juga menerima pesanan yang sifatnya custom. Pemesan bisa memesan secara spesifik mulai dari bentuk, ukuran, warna, hingga jenis benangnya. “Untuk pesanan biasanya saya pasang target untuk diri saya sendiri. Tapi kalau sedang antri, pemesan biasanya maklum dan mau bersabar menunggu,” bebernya.

Mimin tidak bisa mematok secara pasti harga setiap barang rajut yang dia buat. Harga produknya bisa jadi berbeda-beda meski jenisnya sama. “Misalkan sama-sama tas, bisa jadi harganya beda,” jelasnya. Penetapan harga ini didasarkan pada besarnya biaya bahan mulai dari jenis benang, furing (untuk tas), dan tenaga yang dikeluarkan untuk membuatnya.

“Kalau yang kecil-kecil seperti kantung ponsel harganya bisa di bawah Rp 50 ribu. Kalau tas bisa sampai Rp 300 ribu,” pungkasnya.

Lokasi : Jalan Tinalan barat gang II, No. 20A, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri

WhatsApp : 0852 5803 8474

Give a Comment