Native Bags, Memenuhi Kebutuhan Tas untuk Traveling dan Camping

Alat-alat yang dibuat oleh pelaku biasanya lebih pas dan menjawab permasalahan, sebab pelaku biasanya mengetahui kebutuhan dunianya. Sama halnya dengan tas yang dibutuhkan oleh pejalan (traveler) dan orang yang berkemah. Kebutuhannya khas yang hanya dimengerti oleh pelakunya.

Degos Kirono Putro (24 tahun), awalnya banyak melakukan kegiatan luar ruangan karena tuntutan jurusan kuliah. Ia berkuliah di jurusan Geografi, salah satu universitas di Malang. Kegiatan luar ruangan kerap dilakukannya seperti survei, pengambilan data, dan lain-lain.

Beberapa koleksi tas dari Native. Foto : Mall UMKM / Adhi Kusumo

“Karena kegiatan itu, saya akhirnya hobi traveling dan camping,” kata Degos. Untuk kegiatannya, ia membutuhkan peralatan yang harus dibawa dalam kemasan yang nyaman untuk melakukan perjalanan. Tas yang didesain untuk keperluan ini, berkualitas bagus, dan tentu saja harganya terjangkau.

Melihat peluang kebutuhan tas untuk traveling dan kemping, akhirnya ia membuat tas untuk traveling dan camping pada Februari 2020.

“Saya pakai tas Native, singkatan dari natural adventure,” tambah Degos.

Ia mengatakan, Kelebihan dari tas buatannya yaitu bahan terpilih tapi dengan harga bersaing. Bahannya berupa full parasut plus busa dan foam. Bahan-bahan dan desain ini ia bikin berdasarkan pengalaman. Juga membandingkan tas-tas serupa untuk dipelajari kelebihan dan kekurangannya untuk diterapkan di produk Native.

Degos belajar menjahit secara otodidak, berawal dari sang ayah yang juga seorang penjahit. Foto : Mall UMKM / Adhi Kusumo

Bagi Degos, membuat tas sendiri lebih enak dibandingkan re-seller sebab ia bisa berkreasi, bikin pasar sendiri, dan bangga punya produk sendiri. Meski sebetulnya, ia belajar menjahit otodidak. Belajar dari orang tuanya yang penjahit seragam, kemudian Degos belajar menjahit tas.

Soal pemasaran, sejauh ini Native mengandalkan media sosial yaitu Facebook dan Instagram. Rata-rata penjualan bisa sampai 300 buah tas/bulan dengan harga Rp 25.000,- sampai Rp 130.000,-/ buah. Pengiriman paling jauh sampai Papua. Native juga membuka re-seller untuk kawasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Bulan Juni, ketika pandemi dan orang semakin banyak bersepeda, ia pun berkreasi dengan tas sepeda. Penjualannya lumayan, mengingat omzet turun hingga 50% untuk produk tas traveling dan camping karena orang sedikit yang bepergian.

Outlet Native Bag di Kediri. Foto : Mall UMKM / Adhi Kusumo

 “Senang dapat perhatian Pemkot Kediri dan membantu UMKM Kota Kediri,” tambah Degos.

Native Bags
IG: @Nativeindonesia
WA: 085156129563

Give a Comment