Penuhi Target Pesanan, Cipto Gambar Motif Tenun Sambil Jaga Malam

Ada satu usaha tenun ikat yang memencar sendirian di Kecamatan Mojoroto. Usaha tersebut milik Cipto Roso yang sudah dijalankan enam tahun lamanya. Cipto sendiri mulai tertarik menekuni tenun ikat setelah menikah. Dia kemudian belajar membuat tenun dengan bekerja di Kampung Tenun Bandarkidul. Tidak sampai setahun, Cipto akhirnya memutuskan untuk mulai membuka usahanya sendiri.

“Sebelumnya istri dan ibu mertua sudah berbisnis tenun tapi lebih ke pemasaran. Saya kemudian mencoba membuka usaha pembuatannya sekitar tahun 2014,” terang Cipto.

Demi menekan biaya produksi di awal usaha, Cipto mengerjakan semuanya sendiri. Ketika mengalami kebuntuan saat pemrosesan, pria 42 tahun ini tidak segan memanggil pekerja yang sudah mahir untuk bekerja di tempatnya. Kesempatan itulah yang digunakan Cipto untuk belajar mencari solusi dengan melihat pekerjanya bekerja.

“Mereka memang pekerja lepas. Saya pekerjakan sehari dua hari. Setelah itu tidak lagi karena saya sudah bisa hanya dengan melihatnya,” tambahnya.

Lokasi usaha Cipto yang jauh dari sentra tenun ikat di Kota Kediri, tidak membuatnya kesulitan. Produknya yang diberi nama Woro Putri Sejahtera tetap dicari pembeli. Bahkan tidak jarang beberapa produsen tenun ikat di Kampung Tenun ikut membeli barangnya karena sedang butuh. Jika dulu Cipto biasa menitipkan produknya di sentra oleh-oleh dan butik, kini tidak lagi dilakukan karena stok selalu habis.

“Saya produksi setiap hari, mau ada pesanan atau tidak karena ujung-ujungnya pasti barang habis terjual,” jelasnya.

Sebenarnya jauh sebelum pandemi, Cipto sering mendapat pesanan cukup banyak dari Sulawesi. Namun setelah bencana gempa di Palu, pemasaran ke sana terhenti. “Yang paling mereka senangi motif bunga donggala. Tapi untuk saat ini masih belum berlanjut lagi,” beber bapak satu anak ini.

Berbagai bentuk motif tenun Woro Putri Sejahtera

Saat sedang ramai-ramainya, Cipto harus mengebut pembuatannya. Tidak jarang pria yang sehari-hari bekerja sebagai satpam ini harus membawa “garapan” tenunnya ke tempat bekerja. Ketika sedang berjaga malam, Cipto biasa menyambi menggambar motif di atas benang-benang tenun. Selain untuk menyicil pengerjaan, dia merasa senang karena menjadi produktif dan tidak mengantuk di malam hari.

“Tidak sampai mengganggu kerja. Jadi tidak ada masalah,” ujarnya.

Kini usaha Cipto semakin berkembang. Ada empat alat tenun bukan mesin (ATBM) yang ada di belakang rumahnya. Sedangkan pekerjanya ada dua orang, ditambah tenaga Cipto sendiri yang masih sering ikut turun langsung mengerjakan pesanan tenun ikat. “Sehari bisa jadi dua sampai tiga kain siap jual,” ungkapnya.

Saat ini produk yang dibuat Cipto hanya berbentuk kain. Benang yang digunakannya jenis katun dan mesres. Dia berencana untuk mengalihfungsikan satu ATBM kainnya untuk produksi sarung. Namun dia masih ragu karena pemasaran sarung goyor lebih terbatas daripada kain. “Harganya kain di tempat saya standar, sama dengan yang di kampung tenun,” pungkasnya.

Lokasi usaha : Jalan Lawu No 12, Kelurahan Campurejo, Kecamatan Mojoroto

WhatsApp : 0858 9573 2866

Give a Comment