Produksi Keripik Sukun, Ike Nurma Tidak Segan Berburu Sampai ke Kebun

Masih jarangnya produsen keripik sukun di Kota Kediri dimanfaatkan oleh Ike Nurma Kurnia Hesti. Karena masih belum banyak pesaing, produk kripsun (keripik sukun) dan stikku (stik sukun) buatannya cepat habis dibeli. Meski demikian, pelaku UMKM binaan Dinas Perdagangan (Disperindag) Kota Kediri ini tetap menemui tantangan saat menjalankan usaha.

“Tantangannya di pasokan bahan baku yang tidak selalu ada karena musiman,” terang Ike.

Di saat-saat sukun langka, banyak penjual sukun segar yang “nakal”. Sebagian dari mereka mengoplos sukun tua dengan yang muda dalam satu gerobak. Makanya Ike memilih membeli sukun dengan sistem bijian meski harganya lebih mahal. Tidak hanya itu, perempuan 36 tahun ini menyeleksi secara ketat sukun yang dibelinya.

“Hanya yang tua saja yang bagus untuk keripik. Kalau digoreng, teksturnya renyah tapi tidak keras,” katanya.

Ike sebenarnya mengetahui ciri-ciri sukun yang sudah tua. Namun kadang tampilan luar sukun tidak sesuai asumsi. Ike sesekali salah beli. Jika sudah demikian, Ike harus rela merugi dan tidak mengolahnya. “Sukun tua itu biasanya warna kulitnya menggelap, tidak kesat, dan mata-matanya melebar. Meski sudah tahu kadang tetap keblondrok (tertipu, red) saat beli,” curhatnya.

Ike memiliki empat penjual sukun langganan. Ketika sedang sepi, dia memilih menuju pasar langsung untuk berburu sukun. Jika di pasar nihil, Ike tidak segan berkeliling ke desa-desa untuk mencari pohon-pohon sukun yang buahnya siap panen. “Kalau benar-benar tidak ada pasokan, terpaksa libur dulu,” jelasnya.

Sebelum kosong pasokan, biasanya penjual sukun segar memberi kabar terlebih dahulu. Informasi ini dimanfaatkan Ike untuk memperbanyak stok keripik sukun sebelum masa panen berakhir. Makanya pemilik merek Kripsun dan Stikku Oke ini jarang kehabisan stok.  “Normalnya mengolah 20 biji sukun setiap produksi per minggunya. Kadang produksi lebih cepat kalau pas laris,” ujarnya.

keripik sukun
Keripik sukun stik sukun merek Oke buatan Ike Nurma

Ada dua jenis produk yang dibuat Ike yakni stik dan keripik sukun. Cara pengolahan keduanya sama, hanya berbeda bentuk. Keripiknya berupa sukun yang diiris tipis-tipis dengan varian rasa original saja. Sedangkan stik berupa irisan sukun berbentuk panjang-panjang menyerupai korek api.

“Stik digoreng menggunakan api kecil agar stik matang luar dalam. Kalau keripik bisa pakai api besar atau sedang karena tipis,” jelasnya.

Untuk stik sukun, Ike menyediakan banyak varian rasa. Ada rasa balado, sapi panggang, BBQ, manis, dan original. Harga keripik dengan berat 250 gram dijual Rp 17.500, sedangkan berat 125 gram dijual Rp 12 ribu. Sedangkan untuk stik dengan berat 60 gram dijual Rp 5 ribu dan kemasan 150 gram dijual Rp 14 ribu. “Itu harga konsumen. Untuk reseller bisa lebih murah,” jelasnya.

keripik sukun
Ike Nurma menggoreng keripik sukunnya dengan hati-hati.

Hingga saat ini Ike memiliki enam orang reseller keripik sukun yang tersebar di seksitar Kota Kediri. Dia juga menitipkan produk stik sukunnya ke satu rumah makan. Rencananya dia juga akan menitipkan produknya di pusat oleh-oleh. “Kalau saya fokus ke penjualan lokal dan reseller. Mereka yang bersemangat menjual produk saya sampai keluar kota,” pungkasnya.

Lokasi : Kelurahan Kampungdalem, RT 02/RW 03, gang 5 No. 45, Kota Kediri

Instragam : ike_nurma8

Facebook : Cinta Ike

WhatsApp : 0858 5639 6887/ 0857 4518 0111

Give a Comment