Rajut Al-Craft, Kombinasikan Crochet dengan Tas Dari Serat Tumbuhan

Sudah tiga tahun ini Dwi Susanti menggeluti usaha rajut. Kerajinan crochet ini dipilihnya karena lebih ringkas dan mudah daripada membuat kerajinan berbahan tali kur atau makrame. Dengan berbekal keterampilan menjalin helai-helai tali, perempuan yang akrab disapa Santi ini tidak mengalami kesulitan saat belajar rajut.

“Dasarnya memang suka merajut. Belajarnya dari Youtube. Terus dapat tawaran pelatihan dari Dinkop jadi tambah bisa,” terang Santi.

Dari sekian banyak jenis barang, Santi lebih senang membuat tas. Karena sudah punya keterampilan makrame sebelumnya, perempuan 29 tahun ini mencoba mengombinasikannya dengan rajut. Hasilnya berupa tas unik yang terbuat dari anyaman serat tumbuhan berpadu dengan rajutan warna-warni sebagai pemanisnya.

“Ini tasnya bahannya dari mendong, sejenis pandan yang dikeringkan,” tambahnya.

Meski suka membuat tas, Santi kadang juga merasa bosan jika terus-terusan membuat tas. Seperti saat dia mendapat pesanan tas bulat sampai lima buah dari lima konsumen yang berbeda. Dia pun mencoba mengusir kebosanan tersebut dengan merajut barang lainnya yang sederhana jadi tidak sampai mengganggu target penyelesaian barang pesanan.

“Bentuknya kan sama dan tusuk-tusuknya sama semua jadi kadang biar nggak bosan saya selingi bikin barang lain. Lalu dilanjut lagi bikin tas,” katanya.

Selain tas, Santi juga pernah mendapat pesanan sepatu rajut. Dan yang saat ini sedang ngetren adalah konektor masker. Produk inilah yang saat ini menjadi penyelamat setelah sebelumnya kosong pesanan selama pandemi covid-19. Tidak hanya mengerjakan pesanan saja, biasanya Santi juga membuat barang-barang lain sebagai stok.

“Tapi tidak banyak karena biasanya orang-orang pesannya custom sesuai keinginan,” tandasnya.

Tidak hanya bentuk saja, konsumen biasanya memesan produk rajut dengan spesifikasi yang sangat beragam. Mulai dari warna, ukuran, aksen tambahan, hingga jenis benangnya. Makanya Santi tidak berani membuat terlalu banyak stok karena peluang terjualnya rendah. “Apalagi sekarang daya beli masyarakat sedang turun. Saya membuat stok untuk jaga-jaga kalau ada pameran saja,” ungkapnya.

Salah satu produk buatan Dwi Susanti yakni sepatu bayi rajut.

Santi biasa menjual produknya melalui media sosial yakni story whatsApp facebook dan instagram. Untuk harga produknya cukup bervariasi tergantung bentuk, ukuran, dan jenis benang yang digunakan. Meski demikian untuk sepatu rajut rata-rata harganya Rp 175 ribu. Sedangkan tas dibanderol sekitar Rp 150 ribu dengan ukuran standar.

Terlepas dari kualitas rajutan, Santi meyakini ada hal lain yang bisa mendongkrak penjualan barang-barang rajut. Jika penjualan dilakukan secara online kekuatannya ada pada kualitas gambar produk yang menarik. Tapi jika melakukan jualan secara offline, kondisi tempat berjualan menjadi sangat penting.

Hal ini dirasakannya saat mengikuti pameran bersama komunitasnya. Santi bercerita dia pernah ikut pameran di Kediri Town Square beberapa kali. Ketika acara digelar di halaman depan mall hasilnya tidak sampai Rp 1 juta. Namun ketika ikut pameran di dalam gedungnya, omset rajut komunitasnya bisa tembus hingga Rp 4 juta.

“Ternyata faktor kenyamanan juga bisa memberi dampak yang cukup besar terhadap penjualan barang-barang kerajinan,” pungkasnya.

Lokasi : Jalan Perintis Kemerdekaan, gang Sempol, RT 3/RW 3 Ngronggo, Kota Kediri

WhatsApp : 0822 3121 5663

Facebook : Santi Bundarafa

Instagram : al-craft

Give a Comment