Rengginang Barokah Tiga Putra, Renyah dan Gurihnya Lengkap Dalam Sekali Suap

Rengginang merupakan salah satu camilan “jadul” yang sampai sekarang masih eksis. Sebagai produsen, Endang Suhartatik tidak menyangka jika produk buatannya cukup banyak yang menggemari. Respon pasar yang positif ini dirasakan Tatik karena dia sampai mengisi stok tiga kali seminggu di toko-toko resellernya.

“Itu sebelum corona. Kalau sekarang tidak sebanyak itu, tapi Alhamdulillah masih tetap ada yang beli,” terang pemilik rengginang bermerek Barokah Tiga Putra ini.

Dulu sebelum pandemi, Tatik rutin mengolah 10 kg hingga 15 kg beras ketan setiap harinya. Bahkan saat menjelang lebaran, dia bisa menghabiskan satu kuintal ketan per minggunya. Akibat pembatasan sosial, kegiatan kumpul-kumpul, silaturahmi, dan hajatan menjadi tidak ada. Tempat wisata dan jalan-jalan juga dilarang. Otomatis hal ini mempengaruhi tingkat penjualan rengginang.

“Yang biasanya seminggu tiga kali, sekarang dua minggu saya lihat produk masih ada. Tapi Alhamdulillah barang tetap ada yang laku,” ungkapnya bersyukur.

Tatik sebenarnya tidak menyangka jika rengginangnya banyak yang suka. Pasalnya dia menjalankan usaha ini dari nol dan terhitung baru yakni sekitar tiga tahun yang lalu. Ibu tiga anak ini memutuskan untuk menjual rengginang buatannya setelah didorong oleh para tetangga dan rekan-rekan sesama penjual makanan.

“Awalnya saya bawa rengginang mertua ke rumah. Dicoba para tetangga katanya enak. Saya disuruh menjualnya,” ungkapnya.

Endang Suhartatik sedang mengemas rengginang yang sudah kering dan siap konsumsi.

Berkat dorongan dan komentar positif tersebut, Tatik pun mencobanya dengan menjajakan dagangannya ke tetangga-tetangga. Tidak berlama-lama, warga Kelurahan Bandarlor, Kota Kediri langsung diajak rekan-rekan UMKM untuk mengajukan PIRT dan label halal. Selama proses pengajuan, Tatik masih rutin berjualan ke pasar-pasar.

“Semua pasar saya datangi. Produk saya jual ke mana-mana biar orang kenal,” bebernya.

Setelah dapat label halal dan PIRT, Tatik langsung memperluas area pemasaran. Kali ini sasarannya pasar swalayan dan pusat oleh-oleh. Sebenarnya dia sempat pesimis karena sudah ada banyak produk sejenis di sana. Tapi lagi-lagi atas dukungan rekan-rekannya, Tatik tetap mencobanya.

“Alhamdulillah ternyata produk saya bisa bersaing. Setiap minggu saya cek, selalu habis,” jelasnya.

Kini Tatik memproduksi lebih banyak varian rasa rengginang. Mulai dari rasa bawang, terasi, pedas, teri, udang, dan rasa manis. Produknya tidak memakai pewarna maupun pengawet. Ukurannya relatif lebih kecil dibandingkan rengginang pada umumnya. Namun ketika digoreng, rengginang mengembang dengan tekstur renyah.

“Bentuknya memang sengaja dibuat lebih kecil. Jadi bisa habis dalam sekali gigit. Dan pastinya berbeda dengan yang lain,” ujarnya berpromosi.

Endang Suhartatik, pemilik rengginang Barokah Tiga Putra

Karena penjualan di pasar cukup lancar, Tatik masih belum terlalu fokus dengan penjualan online. Meski demikian dia bisa menerima pesanan melalui pesan whatsApp. Produk rengginang ini dijual dalam satu jenis kemasan yakni 500 gram dengan harga Rp 16 ribu.

Lokasi : Jalan Penanggungan, gang III/2, Bandarlor, Mojoroto, Kota Kediri

WhatsApp : 0856 0417 9996

Give a Comment