Sambal Gomber, Pedasnya Bikin Dower

Meski tidak hobi masak, Novianti Handayani senang kulineran. Sayangnya tidak semua makanan yang dibeli sesuai seleranya. Makanya perempuan yang akrab disapa Novi ini pun mencoba membuka sendiri usaha katering. Seiring berjalannya waktu, konsumennya meminta untuk dibuatkan produk khusus sambal.

“Suka makan, tapi sebel kalau harganya mahal tapi nggak enak. Akhirnya bikin sendiri,” terang Novi, pemilik usaha Sambal Gomber Tinalan.

Di awal usaha, Novi menjual nasi bakar dan produknya dititipkan di toko-toko. Semua dikerjakannya sendiri di sela-sela mengurus anak dan mengantar-jemput mereka sekolah. Karena padatnya aktivitas rumah tangga dan usaha, Novi sempat jatuh sakit dan kegiatan usaha terpaksa terhenti.

Dia kemudian bangkit kembali untuk melanjutkan usaha kateringnya di tahun 2015. Berbeda dengan sebelumnya, Novi mencoba memperbaiki manajemen usahanya. “Saat itu saya mulai fokus ke membangun brand, tidak hanya berkutat di kegiatan produksi,” tambah perempuan 40 tahun ini.

Nama nasi bakarnya yang sebelumnya bernama Aurel pun diganti menjadi Gomber. Nama yang menurutnya lebih mudah dikenal masyarakat. Setelah nasi bakarnya dikenal banyak orang, permintaan terhadap produk khusus sambal pun muncul di tahun 2017. Novi kemudian menangkap peluang ini.

“Saat ini ada banyak variannya. Ada sambal cumi hitam pedas, udang korek, teri bawang pedas, tuna pedas, terasi dan sambal ijo,” beber ibu tiga anak ini.

Selain nasi bakar, sambal Gomber juga sudah ada di aplikasi pesan makanan online. Novi juga menjualnya melalui e-commerce. Ada beberapa resellernya yang melakukan pembelian berkala mulai dari Surabaya, Jakarta, dan Bali. Sedangkan pesanan perorangan tersebar hingga ke luar Jawa. “Karena wabah, saat ini saya buatnya kalau ada pesanan. Ada juga stok tapi tidak banyak,” ujarnya.

Novianti Handayani sedang mengemas Sambal Gomber siap jual.

Biasanya Novi membuat sambalnya sebulan sekali. Untuk satu varian, dia langsung memproduksi sebanyak 100 botol. Untuk satu botol sambal dengan berat 200 gram, harganya Rp 30 ribu. “Sambal bisa tahan sampai 6 bulan di suhu ruang. Kalau masuk kulkas bisa lebih lama lagi,” ungkapnya.

Sebagai produsen sambal, harga cabai yang naik turun menjadi tantangan tersendiri bagi Novi. Makanya dia harus pintar-pintar berstrategi ketika cabai sedang mahal-mahalnya. Salah satunya yakni dengan membeli banyak cabai ketika harga sedang terjangkau. Untuk cabai yang sudah kelewat matang, langsung diolah menjadi pasta cabai setengah jadi dan disimpan di dalam lemari pendingin.

Sedangkan untuk cabai yang masih segar dan bagus dijemur. Cabai kering ini nantinya bisa digunakan sebagai campuran ketika harga cabai naik. Dengan demikian, harga sambal tetap bisa dikendalikan meski harga bahan baku cabai melonjak.

“Selain sebagai pelengkap menu, banyak konsumen yang menggunakan sambal ini sebagai campuran bumbu masak. Rasanya sama mantapnya,” pungkasnya.

Lokasi : Jalan Tinalan gang IV Barat, No. 47, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri

Instagram : katering_gomber

Facebook : Katering dan Nasi Bakar Gomber Kediri

WhatsApp : 0821 3914 2454

Give a Comment