Sambal Klotok Momsky, Gurihnya Bikin Bule Amerika Jatuh Hati

Capek menjadi perawat, Dewanti Mustikaning Tyas memutuskan menjadi pengusaha. Gadis yang akrab disapa Ade ini sudah dua tahun merintis usaha sambal klotok. Ternyata produknya cukup diminati. Bahkan warga negara asing yang terkenal tidak suka makan pedas pun ikut menyukainya.

Sebelum wabah corona, rumah Ade menjadi homestay relawan Peace Corps dari Amerika Serikat selama dua tahun berturut-turut yakni tahun 2018 dan 2019. Rata-rata para bule ini lebih menyukai makanan internasional seperti pasta, hamburger, pizza, salad, hingga sandwich.

Ada satu relawan yang seleranya sedikit berbeda. Bule asal Negeri Paman Sam yang menumpang di rumah Ade tahun lalu justru menyukai masakan rumahan. Bahkan dia juga kepincut sambal buatan Ade.

“Saking sukanya dia minta dibungkuskan sambal untuk dibawa pulang ke negaranya,” terang gadis 29 tahun ini.

Ade sendiri awalnya tertarik dengan sambal klotok karena kakak iparnya sering membuatnya. Memang rasa sambal yang dicampur ikan peda tersebut rasanya enak dan gurihnya pas. Ade pun mencoba resep yang sama. Dan hasilnya ternyata sama enaknya.

Beberapa orang yang tahu rasanya pun mulai memesannya meski dalam jumlah kecil. Lama-lama semakin banyak orang yang tertarik untuk pesan. Ade akhirnya berinisiatif untuk mencoba mengelola usaha sambal klotok ini lebih serius. Salah satunya yakni dengan mengurus merek, PIRT, meningkatkan kualitas kemasan, hingga memperluas pemasaran.

“Saya kasih label, saya kemas dalam botol. Saya beri harga Rp 18 ribu per 130 gram,” bebernya.

Ternyata usahanya tersebut tidak langsung mendapat respon positif dari lingkungan. Ade pernah dicemooh kenalannya karena produknya dianggap “terlalu receh”. “Saya pernah dikatain, mosok sambel iwak asin ae regane larang men. (masak sambal ikan asin saja harganya mahal banget, red),” katanya menirukan perkataan seseorang.

Padahal jika ditelusuri, penjual sambal ikan peda sudah banyak di Kota Kediri. Mungkin dikarenakan Ade menggunakan kata “sambal klotok”, orang jadi menganggap remeh sambal buatannya. Meski demikian, Ade tidak ragu untuk terus melanjutkan usaha sambal klotoknya. Justru nama klotok terkesan sangat lokal dan unik. Ade yakin nama ini bisa membuat produknya mudah diingat orang.

“Rasa sambal saya pastinya tidak kalah dengan produk yang sudah ada di pasaran. Bahkan sambal saya lebih baik karena tidak ada rasa sengak seperti produk sebagian orang,” tambahnya.

Dewanti Mustikaning Tyas menunjukkan produk andalannya yakni sambal klotok merek Momsky

Rasa sambal klotok buatan Ade memang mantap. Sejak botolnya dibuka aroma gurihnya ikan peda sudah tercium keluar. Rasanya pun sama gurihnya. Selain kualitas cabe pilihan, Ade juga sangat menjaga kualitas ikan asinnya. Dia memilih ikan peda yang teksturnya masih padat dan tidak lembek. “Sambal dimasak selama tiga jam, jadi hasilnya lebih awet. Bisa tahan sampai tiga bulan di suhu ruang,” tandasnya.

Setiap bulannya Ade memproduksi sekitar 36 kg sambal jadi. Selain sambal klotok, ada varian lainnya yakni sambal cumi. Saat ini beberapa resellernya tersebar di seluruh Indonesia. Mulai dari Nusa Tenggara Barat, Manado, Papua, Yogyakarta, Surabaya, Jombang, Blitar dan sekitaran Kediri.

“Saya juga jualan online di instagram. Selama pandemi ini anehnya malah banyak yang pesan,” bebernya.

Lokasi : Kelurahan Manisrenggo, gang Usman Ali, No. 77 Kota Kediri.

Instagram : sambelmomsky

WhatsApp : 0813 5714 9756

Give a Comment