Sambal Pecel Dapur Bunda, Tidak Mudah Basi Meski Sudah Diseduh

Selain tahu, Kota Kediri juga terkenal akan menu pecelnya. Sambal pecel siap saji pun menjadi salah satu produk yang paling diminati para pelaku industri rumahan karena pasarnya cukup terbuka lebar. Tidak hanya warga lokal, banyak pula orang luar Kediri yang “bergerilya” mencari sambal pecel di Kota Tahu.

“Kita secara berkala kirim ke Jakarta, Jember, Mojokerto, bahkan ada TKW (tenaga kerja wanita, red) Hongkong yang nyari sambal pecel ke sini,” terang Istianah, pemilik usaha sambal pecel merek Dapur Bunda.

Sebenarnya penjual sambal pecel di Kota Kediri cukup banyak. Namun perempuan 54 tahun ini tidak kesulitan dalam memasarkan sambal pecelnya. Pasalnya dia memiliki toko kelontong sendiri di rumahnya sehingga tidak harus titip produk ke toko-toko lain. Dia pun tidak perlu melakukan promosi yang heboh dan aneh-aneh.

“Saya tinggal taruh saja di toko. Pasti laku karena langganan saya juga pasti tahu,” tambahnya.

Sebenarnya usaha sambal pecel tersebut sudah dijalankan orang tua Istianah sejak dulu. Setelah mereka meninggal, perempuan yang akrab disapa Is ini pun berinisiatif untuk melanjutkannya di tahun 2013 lalu. Makanya Is juga tidak merasa kesulitan dari segi resep maupun bahan baku.

“Tapi saya tetap melakukan inovasi agar produk sambal pecel ini tambah diminati masyarakat,” beber ibu dua anak ini.

Istianah, pemilik sambal pecel Dapur Bunda saat berjualan di tokonya.

Jika dulu orang tuanya memakai sembarang jenis kacang, Is mengaku lebih senang menggunakan kacang tuban. Menurutnya, kacang jenis ini lebih mudah pengolahannya dan lebih gurih rasanya. Tidak hanya itu, kacang ini juga bisa menghasilkan lebih banyak sambal pecel daripada kacang lokal.

“Kalau disangrai, matangnya sampai ke dalam. Pas di-ulek, kulit arinya mudah dibersihkan. Hasilnya pun bisa lebih banyak 500 gram daripada kacang biasa,” ujarnya.

Karena tidak menggunakan minyak, sambal pecel merek Dapur Bunda ini lebih tahan lama. Is sendiri belum tahu secara pasti kapan sambal pecelnya kadaluarsa. Pasalnya selama ini sambalnya selalu habis dalam hitungan hari. Meski demikian, saat ini Is sedang mencoba melakukan pengamatan. Dia sengaja menyimpan satu plastik kecil sambal pecel ke dalam toples.

Dia ingin tahu sampai kapan sambal tersebut bisa bertahan. “Ini sudah mau jalan bulan kelima. Masih enak,” tambahnya.

Sambal pecel ini tidak hanya awet saat masih berbentuk pasta. Saat sudah diseduh air panas, sambal ini tetap tidak mudah basi. “Mungkin karena disangrai itu jadi lebih awet,” tandasnya.

Biasanya Is memproduksi sambal setiap lima hari sekali. Namun akhir-akhir ini permintaan naik sehingga dia harus membuatnya dua hari sekali. Setiap produksi bisa menghasilkan 4,5 kg sambal jadi. “Saya tidak pernah ngitung kebutuhan kacangnya habis berapa, soalnya ya ambil langsung dari toko,” bebernya.

Meski kemasannya biasa, produk sambal pecel Dapur Bunda rasanya istimewa

Penjualan sambal saat ini dibantu anak keduanya yakni Ismi Chaeratul Laela. Anak bungsunya ini ingin fokus pada pengembangan usaha secara online dan pengemasan. Untuk penjualan kiloan Istianah membanderol harga Rp 42.500 per kg. Sambal yang dikemas dalam kotak ukuran 250 gram harganya Rp 15 ribu, dan untuk kemasan 500 gram harganya Rp 25 ribu.

“Yang kemasan kotak ini biasanya untuk oleh-oleh,” pungkasnya.

Lokasi : Jalan Raya Sumber Jiput, No. 2, Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri.

WhatsApp : 0812 4642 3306

Give a Comment