Sambal Pecel Mbak Ti, Tetap Laris Selama Wabah Covid-19

Setiap pagi Sulistyawati bersama tujuh pekerjanya selalu sibuk di tempat produksi. Pasalnya ada banyak pesanan sambal pecel dari para reseller yang harus segera penuhi. Tidak tanggung-tanggung, per hari target produksi mereka lebih dari satu kuintal sambal pecel siap kirim. Termasuk saat pandemi.

“Selama corona malah banyak pesanan. Memang seringnya seperti itu. Kalau pada libur malah tambah ramai,” terang Sulis.

Sulis tidak menjual sambal itu sendirian. Dia memiliki lebih dari seratus reseller yang tersebar di Pulau Jawa dan Kalimantan. Setiap minggunya dia rutin kirim produk ke Kalimantan, Depok, dan Solo. Tidak ketinggalan area Jawa Timur seperti Jombang, Malang, Mojokerto hingga Surabaya.

“Sasaran saya memang luar Kediri karena di sini sudah banyak sekali yang produksi,” beber perempuan 39 tahun ini.

Sulis tidak mematok peraturan yang terlalu ketat untuk para reseller. Mereka boleh membeli kiloan tanpa menggunakan merek “Sambal Pecel Mbak Ti”. Dan harganya lebih murah karena membeli dalam jumlah banyak. “Nggak harus pakai merek saya. Yang penting orderan lancar terus,” katanya.

Usaha Sambal Pecel Mbak Ti dirintis Sulis sejak 10 tahun yang lalu. Awalnya sang nenek yang aktif berjualan nasi pecel di Pasar Pesantren. Usaha tersebut kemudian dilanjutkan oleh ibundanya yang bernama Mujiati dalam bentuk sambal siap seduh. Sulis yang sering ikut berjualan sering ditanya stok sambal pecel.

Endi sambel e Mbak Ti. (Mana sambalnya Mbak Ti, red),” ujarnya menirukan pertanyaan orang-orang pasar.

Setelah menikah, Sulis tidak langsung meneruskan usaha tersebut. Dia akhirnya tertarik melanjutkan usaha sambal pecel pada tahun 2010. Dengan modal Rp 250 ribu, Sulis membuat sambal pecel dalam jumlah terbatas dan dibungkusi kecil-kecil. Sulis dibantu sang suami yakni Budi Handayani berjualan keliling.

“Dulu suami kerja. Bantu keliling pas hari libur. Mantan rekan kerjanya yang dulu, sekarang malah jadi reseller,” ceritanya.

Budi Handayani menunjukkan produk Sambal Pecel Mbak Ti.

Dari sekian banyaknya konsumen Sambal Pecel Mbak Ti, ada beberapa yang menyukai tingkat kepedasan tertentu. Ada yang merasa kepedasan, ada yang justru merasa kurang pedas. Untuk mengakomodasi perbedaan tersebut, Sulis pun berbagi tips. “Kalau kurang pedas bisa nggerus lombok (cabai, red) sendiri. Kalau kepedasan bisa dibanyakin airnya, jangan terlalu kental,” katanya.

Tips ini diberikan karena Sulis tidak sanggup jika harus membuat sambal dalam banyak level kepedasan. Daripada membuat konsumen kecewa, Sulis memberikan kebebasan pada konsumennya untuk menyiasatinya secara mandiri.

“Kalau manis, asin dan gurihnya pas. Makanya banyak orang menyukai produk saya,” ungkap ibu dua anak ini.

Produk Sambal Pecel Mbak Ti tahan selama empat bulan hingga setahun di suhu ruang. Bentuk kemasannya pun beragam. Sambal yang dikemas dalam bentuk pak seberat 700 gram harganya Rp 35 ribu. Sedangkan pak 500 gram dijual Rp 25 ribu dan Dan untuk pembelian kiloan dibanderol Rp 40 ribu.

Lokasi : Jalan Sumber Dasem, No 122, Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

WhatsApp : 0852 5773 5566

Give a Comment