Ada Banyak Pilihan Level Pedas Pada Sambal Pecel Oven Mbak Al

Sambel pecel milik Alfi Yasaroh sedikit berbeda dengan sambal kebanyakan. Teksturnya kering terurai, dan tidak berminyak sama sekali. Hal ini dikarenakan semua bahan yang digunakan dioven hingga kering. Mulai dari kacang hingga cabainya. “Makanya saya beri nama sambal pecel oven karena semua bahannya dioven,” terang Alfi.

Pada umumnya produsen mengolah kacang dengan menyangrainya. Namun oleh Alfi kacang segar dioven terlebih dahulu. Begitu pula dengan cabainya. Dua bahan ini biasanya distok. Kacang oven disimpan di toples besar dan tertutup rapat. Sedangkan cabai oven disimpan di freezer.

Ketika ada pesanan, Alfi mengeluarkan cabai dari lemari pendingin lalu diangin-anginkan sebentar. Setelah itu kacang dan cabai digiling bersama dengan gula merah dan daun jeruk segar. Hasilnya kemudian dioven kembali untuk mendapatkan tekstur kering yang paripurna. Tidak ada minyak dan tidak lembek.

“Walaupun kesannya kering, ini kalau diseduh sangat pulen dan lembut,” tambahnya.

Tidak hanya tekstur, rasa manis pada sambal pecel bermerek Mbak Al ini berbeda. Jika biasanya produsen lain menggunakan 80 persen gula merah, Alfi hanya menggunakan perbandingan 1:2 antara gula dengan kacangnya. “Kalau kacangnya satu kilo, gulanya hanya 500 gram. Jadi rasa manisnya pas tidak berlebihan,” jelas perempuan 51 tahun ini.

Alfi juga menyediakan beragam level kepedasan pada produk sambal pecelnya. Mulai dari tidak pedas, sedang, pedas, hingga hot dan super hot. Level ini tidak dijumpai di penjual sambal pecel lainnya yang ada di Kota Kediri. “Yang tidak pedas tetap pakai cabai, tapi hanya cabai merah bukan rawit jadi tidak begitu pedas,” bebernya.

Alfi Yasaroh sedang mengemas produk sambal pecel ovennya di rumahnya.

Kacang yang digunakan Alfi adalah kacang lokal. Perempuan yang buka usaha di Kota Kediri sejak tahun 2016 ini sangat selektif dalam memilih bahan. Hanya kacang segar yang digunakannya. Tidak jarang dia harus melakukan sortir per butirnya ketika proses pembersihan kacang dari kulit arinya.

“Setelah dioven, kacang ditampi untuk dibersihkan. Ketika nemu kacang jelek yang nyempil pasti dibuang agar tidak merusak rasa sambal,” tegasnya.

Eksklusifitas produk sambal pecel oven Mbak Al ini membuat harga sambal sedikit berada di atas pasaran sambal pecel di Kota Kediri. Untuk sambal tabur dengan tekstur kering dalam kemasan 165 gram harganya Rp 15 ribu. Alfi juga menyediakan sambal dengan tekstur yang lebih padat dan basah untuk memenuhi selera masyarakat.

“Harganya Rp 16.500 per kemasan dengan berat 250 gram. Setiap kenaikan level harganya selisih Rp 1500,” ungkap perempuan asli Madiun.

Karena Kediri sudah banyak penjual sambal pecel, Alfi fokus di penjualan online. Pelanggannya kebanyakan dari Bandung, Jakarta, dan Tangerang. Beberapa membawanya sebagai oleh-oleh ke Turki hingga Arab Saudi. Sambal pecel ini sangat aman dibawa bepergian karena tekstur keringnya membuat sambal ini tahan berbulan-bulan.

“Kalau suhu ruang sekitar 4 bulan. Kalau ditaruh di kulkas bisa sampai 7 bulan,” tandasnya.

Alfi ingin produknya fresh ketika sampai konsumen. Makanya dia baru memproses sambal ketika ada pesanan. Meski demikian, dia rutin menyetok kacang oven sebanyak 8 kg yang biasanya habis dalam jangka waktu dua minggu. “Saya murni jualan di marketplace. Kalau titip di toko-toko, produk tidak baru karena pasti tertahan dulu di toko sebelum laku,” katanya.

Meski demikian Alfi tetap menyediakan beberapa produk yang siap jual untuk para konsumen yang datang langsung ke tempat produksi.

Lokasi : Jalan Mauni gang III/6, Kelurahan Bangsal, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

WhatsApp : 0852 2001 1961

Give a Comment