Sambal Tasya Jaya, 100 Kg Cabai Ludes Dalam Sebulan

Jiwa entrepreneur Sri Hartatik memberontak ketika usaha rokoknya harus tutup. Sebagai gantinya, perempuan yang akrab di sapa Tatik ini diikutkan pelatihan-pelatihan membatik oleh pemerintah melalui dinas-dinas terkait. Hingga akhirnya pada tahun 2012 Tatik memulai usaha batik secara resmi. Sayang usaha tersebut tidak berjalan mulus.

“Sejak awal saya memang tidak bisa membatik jadi yang saya pelajari manajemen usahanya. Setelah saya coba ternyata tetap sulit, perputaran uangnya lambat jadi tidak saya teruskan,” terang perempuan 54 tahun ini.

Tatik mencoba beralih produk yakni berjualan makanan ringan dan sambal yang dibuatnya sendiri. Usaha keduanya ini dirintisnya dari nol di tahun 2016. Saat itu Tatik membuka sendiri pasarnya. Dengan menaiki sepeda motor, ibu dua anak ini berkeliling sendiri mencari toko-toko yang mau menjadi reseller produknya.

“Awalnya banyak sekali yang nolak. Tapi terus saya datangi tokonya sampai pemiliknya akhirnya mau dititipi produk saya,” bebernya.

Suasana dapur sambal Tasya Jaya saat proses produksi

Kini resellernya sudah ada ratusan toko. Semuanya tersebar di empat wilayah yakni Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Kertosono, dan Nganjuk. Produknya semakin dikenal dan laku keras. Karena tenaganya tidak mencukupi, Tatik memutuskan untuk fokus di produksi sambal seafood bermerek Tasya Jaya. Ada beberapa varian yang ditawarkan yakni sambal udang, cumi, teri, dan ikan pedo. Ada pula sambal bawang dan petai.

Cabai merupakan komoditas yang harganya fluktuatif di pasaran. Tidak jarang cabai mengalami lonjakan harga yang tidak masuk akal ketika sedang paceklik. Meski demikian Tatik tidak pernah risau terhadap stabilitas pasokan cabai. Selama ini dia cukup mudah mendapatkan bahan bakunya meski terkadang harganya mahal.

“Saya selalu kulakan di Pasar Grosir Ngronggo. Kalau pas mahal tetap saya borong. Yang penting produksi tetap jalan,” katanya.

Tatik tidak memiliki penjual cabai langganan. Karena banyak penjual di Pasar Grosir, dia leluasa memilih pedagang yang cabainya bagus. Kualitas bahan baku ini sangat penting bagi Tatik karena bisa mempengaruhi rasa sambal itu sendiri. “Dalam sebulan saya empat kali produksi. Total bisa menghabiskan 100 kg cabai segar per bulan,” terangnya.

Tatik menggunakan mesin untuk memproses sambalnya

Ketika harga cabai sedang melambung, Tatik tidak serta merta menaikkan harga produknya. Dia rela labanya terpotong daripada harus membebankan kenaikan harga tersebut ke pembeli. “Yang penting penjualan tetap stabil, dan tidak sampai rugi,” tandasnya.

Ada dua jenis kemasan yang digunakan. Untuk botol ukuran 150 gram dijual seharga Rp 13 ribu, sedangkan ukuran 250 gram dijual Rp 20 ribu. “Itu harga di saya. Untuk reseller terserah menjualnya berapa ke konsumen,” tambahnya saat ditemui di kediamannya di Perumahan BTN, Rejomulyo, Kota Kediri.

Saat ini Tatik memproses sambalnya menggunakan mesin. Dia juga mempekerjakan tiga pekerja lepas yang merupakan warga sekitar. Sambal yang dibuatnya diproses selama empat jam. Proses ini ditujukan agar produk tahan lama dan tidak mudah rusak meski tanpa pengawet. “Sambal ini tahan sampai 5 bulan.” pungkasnya.

Lokasi : Perum BTN Rejomulyo, gang VI, RT 03/RW 06, Pesantren, Kota Kediri

WhatsApp : 0852 5762 5048

Give a Comment