Sempat Lesu “Dihajar” Pandemi, Keripik Sukun Palma Bangkit di Pasar Online

Menjalankan usaha kripik sukun ternyata tidak mudah. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Apalagi sempat diterpa pandemi, membuat usaha ini menjadi tidak cukup “renyah” lagi. Meski demikian Agus Sunarko bersama sang istri terus berusaha menggenjot penjualan keripik sukun yang sudah dirintisnya sejak beberapa tahun yang lalu.

“Kita usaha keripik sukun karena suami sudah ada pengalaman produksi ketika masih lajang. Setelah menikah kami putuskan mulai buka usaha sendiri di Rejomulyo,” terang Suyanti Dwi Herlina, istri Agus Sunarko saat ditemui di kediamannya.

Beberapa tantangan yang dimaksud adalah pasokan bahan baku yang tidak selalu ada. Saat ini Yanti bekerjasama dengan satu pengepul sukun yang sudah memiliki kebun langganan. Dalam setahun kebun-kebun tersebut hanya bisa dipanen sebanyak tiga hingga empat kali saja. Proses produksinya pun menyesuaikan.

“Pohon sukun kan setelah dipanen ada masa tunggunya untuk bisa dipanen lagi. Jadi pasokan sukun tidak setiap bulan ada,” tambahnya.

Sebenarnya untuk menutupi kekosongan tersebut, Yanti bisa mendapatkan pasokan sukun dari pengepul lain atau kulakan di Pasar Grosir Ngronggo. Namun hal ini tidak dilakukannya. Pasalnya tidak banyak pengepul atau penjual yang memperhatikan kualitas dagangannya.

Menurut Yanti, sukun yang dijual di pasar biasanya diampur antara yang tua dan muda. Padahal yang digunakan untuk keripik hanya yang tua saja. Sedangkan untuk pengepul biasanya sukunnya bagus ketika di awal kerjasama. Tapi semakin lama, sukun yang disetorkan semakin asal-asalan kualitasnya.

Stok keripik sukun Palma yang diolah setengah matang

Padahal sukun dibayar berdasarkan jumlah buahnya, bukan kiloan. Jika banyak sukun yang tidak layak diolah, jelas hal ini merugikan karena bisa mengurangi volume produksi. Sukun mentah yang jumlahnya di bawah 100 biji bisa menjadi 4-5 kardus keripik dengan berat masing-masing 10 kg. Jika sukun yang terkumpul di atas 100 biji, bisa jadi 6-7 kardus keripik.

“Daripada potensi ruginya besar, kami bertahan di satu pengepul saja yang sudah pasti bagus sukunnya,” tegasnya.

Keripik sukun milik Yanti memiliki potongan melingkar. Sistem produksinya musiman. Ketika sukun sedang melimpah, bisa produksi setiap hari selama dua bulan lamanya. Hasil pengolahan tersebut ada yang langsung dijual dan ada yang dijadikan stok selama pasokan sukun kosong. “Jadi pas konsumen atau reseller butuh produk, kita tetap siap melayani,” ungkap ibu satu anak ini.

Yanti menggoreng keripik sukunnya menggunakan tungku besar berbahan bakar kayu

Untuk stok, Yanti menggoreng keripiknya setengah matang lalu menyimpannya di ruangan yang sejuk dan tidak lembab. Ketika ada permintaan, keripik kembali digoreng lalu kemudian dipasarkan. Keripik sukun ini bisa tahan sampai tiga bulan. “Seperti kentang goreng, tapi keripik sukun tidak di-freezer karena kondisinya sudah kering ketika digoreng setengah matang,” bebernya.

Keripik bermerek Palma ini menyasar tempat-tempat wisata, penjual grosir, dan retail. Salah satunya Golden Swalayan, Kota Kediri. Tidak hanya Kediri, pemasarannya sampai ke Sidoarjo, Surabaya, dan Bali.

Sayangnya banyak tempat wisata tutup selama pandemi COVID-19. Toko-toko pun penjualannya turun drastis. Makanya saat ini Yanti mencoba meningkatkan penjualannya melalui media sosial. Beberapa platform yang digunakan yakni instagram dan facebook. Produk keripik sukun ini dijual dalam tiga ukuran kemasan. Kemasan 10 kg harganya Rp 300 ribu, yang ukuran 2 kg dibanderol Rp 60 ribu, dan yang kemasan 150 gram harganya Rp 8 ribu.

“Kemarin sempat upload di Tokopedia, tapi belum saya edit harganya. Masih nunggu bantuan arahan dari pendamping UMKM karena agak ribet input-input produknya kalau di marketplace,” pungkasnya.

Lokasi produksi : Jalan Sumber Jiput, 22 A, Kelurahan Rejomulyo, Kota Kediri.

Facebook : Yanti Dwi

Instagram : yanti4280

Give a Comment