Stories Cake, Kembang Goyangnya Renyah dan Lembut di Mulut

Tidak banyak yang tertarik dengan bisnis kue kembang goyang karena camilan ini terkesan “jadul” dan tidak populer lagi. Namun Iola Shafhah justru berpikir sebaliknya. Kecintaannya terhadap kembang goyang di masa kecil membuatnya mantap menjalankan usaha produksi kembang goyang meski masih skala rumahan.

“Saya pernah mencicipi jajanan enak saat SD dan terngiang-ngiang rasanya sampai remaja,” terang gadis yang akrab disapa Iola ini.

Gadis 20 tahun ini akhirnya menyadari bahwa kue yang dia makan saat kecil tersebut bernama kembang goyang. Ketika bosan menunggu pengumuman Ujian Nasional SMA, Iola mencoba membuatnya berdasarkan resep yang dia dapatkan dari youtube.

“Saya coba-coba sendiri. Ternyata di percobaan pertama hasilnya enak,” terangnya bahagia.

Tanpa pikir panjang, Iola berniat berjualan kembang goyang. Ternyata membuat kembang goyang tidak semudah itu. Iola beberapa kali harus memakan sendiri produknya karena kualitas hasilnya masih belum konsisten. Setelah ditelusuri, penyebabnya ada pada takaran resep yang kadang jumlahnya kurang atau kelebihan.

“Seperti bikin cake, takaran bahannya harus pas dan saklek,” beber gadis yang masih menempuh pendidikan S1 semester lima ini.

Tidak hanya takaran, perbedaan merek bahan pun bisa berdampak pada hasil akhir kembang goyang. Iola pernah berganti merek tepung beras karena merek langgananya sedang kosong. Ternyata hasilnya tidak serenyah dan seempuk biasanya. Begitu pula penggunaan minyak yang tidak boleh sembarangan mereknya.

“Walaupun sudah punya resep pakem, kadang saya masih bereksperimen merek. Jika suatu saat nanti merek langganan saya harganya naik atau sedang langka, saya bisa beralih ke merek lain tanpa harus mengganggu produksi,” ujarnya bersemangat.

Iola sedang menggoreng kembang goyang Stories Cake di dapurnya

Tidak hanya di bahan, teknik pembuatan kembang goyang pun cukup rumit. Yang paling penting dalam prosesnya adalah pengaturan suhu saat cetakan adonan masuk ke penggorengan. Jika suhunya terlalu panas atau terlalu dingin, hasil cetakan kembang goyang tidak akan bagus dan sempurna.

“Harus telaten. Saya saja tidak bisa karena rumit sekali membuatnya,” sela Ike Aris Setyawati, ibu Iola.

Setelah sebulan mencoba, akhirnya didapatkan hasil yang layak jual. Tekstur kembang goyang buatan Iola renyah namun lembut. Jadi ketika dikunyah, camilan ini tidak sampai menyakiti rongga mulut penikmatnya. Stories cake sendiri beredar secara resmi sejak dua tahun yang lalu.

“Awalnya sempat minder dan takut bersaing dengan pemain lama. Takut nggak laku. Ternyata produk saya cukup diminati terutama dari kalangan mbah-mbah,” ujar Iola sambil tertawa.

Setiap bulannya, Iola memproduksi sekitar 60 bungkus kembang goyang dengan berat masing-masing sekitar 200 gram. Produk bermerek Stories Cake ini dititipkan ke toko oleh-oleh di sekitar Kota Kediri dan sebagian dijadikan stok di rumahnya yang berada di Kelurahan Tinalan, gang III. Tidak jarang ada orang yang beli langsung lewat aplikasi gofood atau grabfood.

“Harga per bungkusnya Rp 12 ribu,” ujarnya.

Tidak hanya kembang goyang, beberapa produk Stories Cake juga berupa camilan stik dengan varian cokelat, keju, dan pedas. Camilan ini sistem produksi dan penjualannya sama dengan kembang goyang. Sedangkan produk lainnya ada kue kering seperti nastar, kastengel, putri salju, kue semprit, dan sagu keju. Kue-kue ini biasa diproduksi dalam jumlah besar ketika mendekati lebaran.

“Kalau hari-hari biasa pesan dulu. Kadang pesanan bisa sampai Surabaya,” tambah Ike.

Selain kue, Ike juga berjualan sambal gammi khas Bontang. Sambal ini selalu tersedia, lengkap dengan nasi dan toppingnya yang bermacam-macam mulai dari telur, sosis, ayam, cumi, dan udang.

Lokasi : Jalan Tinalan gang III Timur, No. 29, Kota Kediri.

Instagram : stories_cake.id

WhatsApp : 0811 315 6853/ 0811 315 6852

Give a Comment