Sulam Pita Mary Craft, Kualitasnya Memukau Harganya Terjangkau

sulam pita

Di sela-sela aktivitas sebagai pendamping penyandang disabilitas, Maryati aktif menyulam. Hasil karyanya berupa masker sulam pita banyak disukai. Harganya pun terjangkau. Untuk masker sulam pita handmade-nya hanya berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribuan saja.

Hingga saat ini, masker yang menjadi salah satu produk UMKM Kota Kediri ini sudah beredar hingga luar Pulau Jawa. “Saya manfaatkan komunitas sesama pendamping,” terang perempuan yang bekerja sebagai mitra Dinas Sosial (Dinsos) Pemerintah Kota Kediri ini.

Sejak 2016 lalu, Maryati mulai menjadi pendamping warga dengan kebutuhan khusus. Dari kesibukannya ini, dia memiliki lingkar pertemanan yang luas. Mulai dari para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Dinsos, rekan sesama pendamping se-Indonesia, dan masyarakat umum.

Dari sanalah, Maryati memulai kegiatan promosinya. Tidak jarang pesanan secara kolektif muncul dari koleganya. Mereka senang produk sulam buatan Maryati bukan semata karena faktor hubungan pertemanan saja. Hasil sulam pita bermerek Mary Craft memang cantik dan kualitas barangnya bagus.

Sulam pita hasil tangan Maryati sangat rapi. Permainan warnanya cantik dan bentuk motifnya pun beraneka ragam. Untuk masker, perempuan 40 tahun ini menggunakan kain toyobo. Ada dua varian yakni sulam satu sisi yang diberi kode F1, dan dua sisi dengan kode F2. Ada motif bunga yang “ramai”, ada pula yang simpel.

“Biasanya teman-teman lapangan senang masker berwarna gelap dengan hiasan sulam yang simpel tapi cantik,” tambahnya.

Selain itu, Maryati juga menerima pesanan sulam pita pada totebag, kerudung segi empat, dan home décor. Semuanya bisa dipesan secara custom. Tidak hanya memperhatikan kualitas produknya saja, Maryati juga sangat memperhatikan kemasan produknya. Dia juga menyematkan label berbahan pita satin.

“Jadi merek saya semakin dikenal, tapi tidak merusak tampilan produk,” tandasnya.

sulam pita
Maryati sedang sibuk membuat masker sulam pita di rumahnya.

Meski sebagian pembelian berupa pesanan custom, Maryati tetap aktif produksi setiap hari. Aktivitas menyulam ini dilakukannya disela-sela kegiatan di lapangan. Kegiatan menyulam ini menurutnya cukup menyenangkan karena bisa menghilangkan kejenuhan selama bertugas sebagai pendamping.

“Saya tidak ada target untuk menyulam, saya lakukan dengan santai dan senang hati,” beber perempuan kelahiran Trenggalek ini.

Kecuali jika ada pesanan khusus, Maryati pasti akan berupaya menyelesaikan pesanan bahkan jauh sebelum jatuh tempo pengiriman. Agar tidak mengecewakan konsumen, dia mematok waktu pre order yang relatif panjang yakni seminggu sebelum dikirim. “Saya punya akun marketplace tapi masih belum aktif posting di sana karena khawatir pesanan membludak dan mengganggu pendampingan,” tandasnya.

sulam pita
Maryati yang berjiwa sosial berusaha tetap menyulam di sela-sela aktivitasnya sebagai pendamping penyandang disabilitas.

Bukan berarti menomorduakan usaha sulam pita. Maryati sangat bahagia dengan bisnis sulamnya karena cukup menghasilkan dan bisa menyalurkan hobi. Namun ibu tiga anak ini juga tidak ingin kegiatan usahanya ini menyedot perhatian yang terlalu besar karena bisa berdampak dengan performanya dalam mendampingi masyarakat yang membutuhkan.

“Saya kalau lihat orang dengan gangguan jiwa, keleleran (terlantar, red) di jalan itu tidak tega. Makanya saya berusaha jangan sampai mereka terlupakan,” ujarnya sambil menitikkan air mata.

Lokasi : Kelurahan Tosaren RT 4/RW 02, Kecamatan Kota Kediri.

Instagram : marycraft_2020

WhatsApp : 0823 3044 4140

Give a Comment