Tenun Ikat Sempurna 2, Pilih Potong Laba Daripada Turunkan Mutu

 

M. Asharul Ma’arif adalah satu-satunya penerus usaha tenun ikat di keluarganya. Ketika enam saudara kandungnya memilih profesi lain, Harul yang notabene anak kelima terpanggil untuk tetap menjaga kearifan lokal dan budaya yang diturunkan dari generasi sebelumnya. Makanya kini pria 39 tahun ini menjalani pekerjaannya sebagai pengusaha tenun dengan bahagia.

“Tidak ada cita-cita lain selain mengembangkan usaha tenun ikat Bandarkidul,” terangnya mantap.

Harul adalah generasi ketiga yang menjalankan usaha tenun di keluarganya. Dulu dia mendengar cerita bahwa kakek-neneknya juga menjadi perajin tenun di masanya. Lalu kemudian diteruskan oleh kedua orang tuanya dengan membuka usaha tenun bernama UD Sempurna 1. Harul sendiri sejak kecil sudah sangat familiar dengan kegiatan produksi tenun.

“Dulu sering lihat pekerja membuat tenun jadi sudah sangat akrab dengan tenun,” tambahnya.

Harul baru benar-benar terlibat dalam proses produksi setelah lulus sekolah menengah. Ternyata kegiatan membuat tenun baginya sangat menyenangkan. Makanya pria asli Bandarkidul ini semakin mantap bekerja di bidang tenun dan setelah menikah membuka usaha sendiri yang diberi nama UD. Sempurna 2. “Usaha orang tua saya sebenarnya masih berjalan sampai saat ini. Tapi karena bapak sudah meninggal, produksinya tidak sebanyak dulu,” tambahnya.

M. Asharul Ma’arif (kanan) bersama dengan Heri Tri Santoso, ketua KUB Tenun Ikat Bandarkidul sedang memperlihatkan benang tenun yang masih dalam proses pengerjaan.

Menurut Harul tidak banyak perubahan pada teknik menenun sejak dulu hingga sekarang. Termasuk alat tenunnya pun sama yakni alat tenun bukan mesin (ATBM). Namun bukan berarti tidak ada perubahan yang dilakukan. Demi bisa bersaing dengan tren mode saat ini, para perajin berinovasi pada motif dan corak warna agar kekinian dan tidak ketinggalan zaman.

“Ada juga pengusaha yang berinovasi membuat tenun dengan motif timbul tapi tidak semua karena perlu alat khusus,” bebernya.

Harul ingat di era 80-an, tenun ikat Bandarkidul yang berbentuk sarung sangat diminati masyarakat meskipun motifnya kotak-kotak biasa. Namun satu dasawarsa berjalan, mulai banyak beredar sarung pabrikan dengan motif yang sama. Jelas hal ini membuat peminat sarung tenun turun karena konsumen beralih ke sarung pabrikan yang lebih murah.

Para perajin akhirnya memutuskan untuk beralih segmentasi pasar. Mereka semakin menjaga kualitas kain, mempercantik corak dan bermain padu padan warna untuk menyasar pasar souvenir dan oleh-oleh. Untuk bahannya, Harul memilih benang rayon untuk sarung dan benang katun untuk kain. “Sekarang juga ada yang produksi dari kain sutra tapi yang pengusaha besar-besar saja,” jelasnya.

Di tempat usaha Harul, sudah ada tujuh alat tenun. Sebelum pandemi, UD Sempurna 2 bisa menghasilkan 6-7 potong kain setiap minggunya. Namun karena permintaan berkurang akibat wabah, Harul pun mengurangi jumlah produksi. Untuk satu lembar dijual seharga Rp 165 ribu hingga Rp 170 ribu. Harga ini relatif murah karena kain sarung yang dijual Harul berbeda dengan sarung tenun pada umumnya.

“Di tempat lain alat tenunnya masih standar tidak sebesar saya makanya rata-rata menjual sarung dengan sambungan di tengahnya. Kalau saya tidak,” urai Harul berpromosi.

Penetapan harga sarung tenun sebenarnya sangat bergantung pada harga benang. Saat ini benang hanya bisa didapatkan dari impor dan hanya dari satu pemasok saja. Makanya perajin tenun sangat bergantung pada stabilitas pasokan dan harga benang. Jika harganya naik atau barang telat datang, pasti akan langsung berpengaruh pada kelancaran usaha milik para perajin.

“Kendala paling besarnya ya di benang. Sumbernya terbatas. Jadi kalau ada apa-apa bisa berdampak besar pada pelaku usaha. Itu dirasakan semua perajin, bukan saya saja,” tandasnya.

Jika harga benang naik, para perajin tenun tidak bisa serta merta menaikkan harga produknya. Pasalnya hal ini bisa membuat penjualan menurun karena konsumen pasti akan keberatan dengan harga tenun yang semakin meninggi. Belum lagi para pekerja setiap tahun meminta kenaikan upah. Mau tidak mau para perajin yang harus berkorban dengan mengurangi besarnya keuntungan yang tidak seberapa.

“Meski kondisi sedang sulit, kami para perajin berkomitmen untuk tidak menurunkan kualitas produk karena itu justru bisa berdampak buruk bagi merek yang sudah susah payah dibangun,” pungkasnya.

Give a Comment