Tenun Sinar Barokah, Produknya Sempat “Diserbu” dan Diborong Kru Film Yo Wis Ben

“Tenun tidak hanya digunakan orang-orang tua tapi anak-anak muda juga. Jadi saya harus membuatnya lebih menarik,” terang Ayu Mila Permata Sari, putri dari Sudarman selaku pemilik usaha tenun ikat Sinar Barokah.

Mila sudah menjalankan bisnis ayahnya tersebut sejak delapan tahun yang lalu. Selain menjaga kualitas kain, berbagai terobosan dilakukannya guna bertahan di tengah persaingan usaha tenun. Salah satunya yakni dengan menyasar kalangan milenial. Caranya yakni dengan memperbaharui motif dan pola pewarnaan yang lebih kekinian mengikuti perkembangan zaman.

“Dulu tenun rata-rata warnanya mencolok dan hanya menggunakan warna-warna dasar. Kalau merah ya merah saja, hitam ya pewarnanya hitam saja. Kalau sekarang kan ada percampuran warna misalkan hitam dicampur putih sedikit jadinya abu-abu,” tambah Mila.

Mila yang masih berusia 29 tahun paham bahwa pergeseran tren warna selalu mengalami perubahan yang dinamis. Makanya dia selalu mengecek tren yang up to date melalui internet. “Warna yang disukai anak muda ini misalnya silver, pastel, dan warna-warna yang soft,” tambahnya saat ditemui di rumahnya di Kampung Tenun Bandarkidul, Mojoroto, Kota Kediri.

Tidak hanya warna, motif juga terus diperbaharui. Motif-motif dasar seperti rangrang, mlinjon, tirto dirjo dan telur ceplok khas Kota Kediri dimodifikasi dan diberi tambahan-tambahan aksen sehingga lebih bervariasi dan menarik. Upaya ini terbukti ketika kru film “Yo Wis Ben” yang sedang syuting di Kota Kediri, datang ke tempat usahanya di Jalan KH Agus Salim gang VIII/9C. Ratusan kru yang masih muda-muda tersebut tertarik membeli produk-produk Tenun Sinar Barokah.

“Produk kita kan ada yang berbentuk syal. Nah sama mereka dibikin macam-macam. Ada yang dililit di leher, lengan, dijadikan udeng (dililit di kepala, red). Terus foto rame-rame di sini,” ujar ibu satu anak ini.  

Selain syal, Sinar Barokah juga memproduksi sarung goyor dan kain tenun. Dalam sebulan, ada 3 kodi sarung goyor yang secara konsisten dijual ke luar negeri melalui perantara pedagang Arab di Surabaya. Sedangkan kain tenunnya dibuat sebanyak 70 potong per bulan untuk konsumen lokal. “Saya tidak titip-titip, pembeli sendiri yang ke sini untuk berbelanja kain,” ungkapnya.

Ayu Mila Permata Sari, Pemilik tenun ikat Sinar Barokah, sedang menata benang-benang bermotif yang siap untuk diwarnai.

Sebagai pelaku usaha tenun, Mila tergolong paling muda. Meski demikian anak kelima dari Sudarman ini tetap lincah dan cekatan dalam menjalankan usahanya. Semua kegiatan pengadaan mulai dari benang, pewarna, dan tenaga kerja dikelolanya secara mandiri tanpa ada kesulitan. Hal ini dikarenakan Mila sudah akrab terhadap proses pembuatan tenun sejak dirinya masih kecil.

“Sesekali ya tetap konsultasi ke Bapak. Bapak juga masih aktif menengok tempat produksi. Tapi untuk teknis operasional, menghadiri undangan-undangan, dan hubungan dengan customer semua sudah saya pegang sendiri,” tambahnya.

Menurut Mila, Sinar Barokah sendiri dulunya adalah nama koperasi tenun yang ada di Kelurahan Bandarkidul. Namun karena dianggap tidak sehat, koperasi harus ditutup dan diganti dengan kelompok usaha bersama (KUB). Makanya nama Sinar Barokah kemudian dijadikan hak milik dan menjadi nama usaha milik Sudarman.

Sejak awal ada, Sinar Barokah fokus memproduksi sarung motif kotak yang biasa dipakai sehari-hari oleh masyarakat. Karena digempur oleh sarung pabrikan yang lebih murah dan jumlahnya banyak, produk Sinar Barokah berubah ke sarung goyor. Baru di tahun 2007, usaha ini merambah ke produksi kain. Dan yang terbaru ada yang berbentuk syal.

“Saat ini kami sudah ada 10 alat tenun bukan mesin (ATBM) kain tenun, dan lima ATBM sarung goyor. Sedangkan pekerja mencapai 25 orang dengan sistem borongan,” pungkasnya.

Lokasi : Jalan KH Agus Salim, VIII/9C, Bandarkidul, Mojoroto, Kota Kediri

Instagram : tenunikat_sinarbarokah

WhatsApp : 0856 5580 9707

Give a Comment