Tidak Hanya Kain, Tenun Ikat Mulya Juga Produksi Tas Kulit Eksklusif

Tenun ikat pernah menjadi pekerjaan orang tua Suharto dulu. Namun usaha ini sempat terhenti karena persaingan usaha yang cukup ketat. Sebagai seorang pengusaha konveksi, Suharto yang asli Bandarlor ingin menghidupkan kembali usaha tersebut sekaligus menjaga kearifan lokal Kota Kediri.

“Sudah lima tahun usaha ini berjalan,” terang Suharto.

Di awal usahanya, Suharto membuka produksinya di Desa Bulu, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Pertimbangannya karena di sana tersedia banyak tenaga kerja lepas yang bisa diberdayakan. Namun setelah memiliki tempat di dekat rumahnya di Kelurahan Bandarlor, dia akhirnya pindah lokasi.

“Selain dekat dengan pasar, transportasi mudah. Pengurusan administrasi usaha juga lebih mudah karena dekat dengan sentra tenun Kota Kediri,” tambahnya.

Suharto tidak langsung ahli dalam menjalankan usaha tenun. Pria asli Bandarlor ini sempat belajar ke sentra tenun di Troso, Jepara untuk melihat bagaimana sebuah bisnis tenun dijalankan secara profesional dan hasil kainnya berkualitas. Kini usaha miliknya semakin berkembang. Saat ini dia memiliki 14 alat tenun bukan mesin (ATBM) dengan jumlah pekerja lepas enam orang.

“Kalau banyak pesanan, semua alat saya operasikan. Saya tambah pekerja dengan sistem borongan,” bebernya.

Selain menerima pesanan, Suharto juga rutin memproduksi kain setiap harinya. Setidaknya satu orang bisa menghasilkan tujuh hingga sepuluh potong kain. Stok tersebut nantinya digunakan untuk pameran, atau pembelian dadakan baik dari sesama pengusaha tenun atau konsumen perorangan.

“Saya gunakan benang katun impor dari India. Pewarna saya pakai yang termahal dari Jepang. Jadi warnanya sangat awet,” ungkapnya.

Suharto, pemilik usaha tenun ikat Mulya saat berada di tempat produksi di Kelurahan Bandarlor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri

Ada banyak perajin tenun di Kota Kediri. Dari sekian banyak kain tenun yang beredar di pasaran, kain buatan Suharto lebih mudah dikenali. Pasalnya kain yang diberi label Mulya ini memiliki aksen khusus di bagian tepi kain berupa motif tirta.

“Apapun motif yang terlukis di kain, hampir selalu saya kasih motif tirta di ujung paling bawah kain. Kecuali ada pemesan yang tidak mau ada, bisa dihilangkan,” beber pria 54 tahun ini.

Tidak hanya kain, Suharto juga membuat tas kulit yang dipadupadankan dengan tenun ikat. Ada banyak bentuk dan ukuran. Tas ini dibuat secara eksklusif karena memiliki model yang terbatas. Benang tenun yang digunakan berbeda dengan kain karena memiliki diameter lebih besar sehingga hasilnya pun lebih tebal.

“Kalau benang tenunnya disamakan dengan kain hasilnya kurang maksimal, makanya saya gunakan benang yang lebih tebal tapi jenisnya tetap katun atau mesres,” ujarnya.

Pekerja sedang menggulung benang tenun jenis katun yang diimpor dari India

Selain promosi lewat pameran, Suharto juga menjual produknya lewat media sosial. Untuk harga kain dijual Rp 175 ribu per potong. Sedangkan untuk tas kulit dijual mulai Rp 300 ribu hingga Rp 350 ribu. Kulit yang digunakan mulai kulit KW1 hingga kulit imitasi. Bahan-bahan ini dipilih karena masih menyesuaikan dengan pasar yang dimilikinya saat ini.

“Ke depannya saya ingin menyasar pasar high-end. Buat tas limited edition dengan bahan kulit asli. Hanya saja saat ini masih belum bisa nembusi pemasok kulit di luar negeri. Masih nyari jalannya,” pungkasnya.

Lokasi : Kelurahan Bandarlor gang IX B, No. 21, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri

WhatsApp : 0811 332 402

Instagram : tenunmulya

Give a Comment